Sumbawanews.com,- Manchester – Keputusan Manchester United memecat Ruben Amorim pada awal Januari 2026 bukan karena kurangnya bakat, melainkan karena kegigihannya mempertahankan filosofi permainan yang tak lagi sesuai dengan realitas klub. CEO Omar Berrada secara tegas menyatakan, kegagalan pelatih asal Portugal itu berakar pada ketidakmauan untuk beradaptasi di tengah tekanan luar biasa.
Amorim, yang dikenal sebagai salah satu pelatih muda paling brilian di Eropa setelah sukses membawa Sporting CP memenangi empat trofi domestik dalam empat tahun, dianggap terlalu kaku saat menangani Setan Merah. Ia datang di tengah musim tanpa masa persiapan pramusim, di bawah sorotan media yang tak kenal ampun, dan justru memilih mempertahankan sistem permainan yang ia kenal—meski hasilnya kian memburuk.
Musim debutnya di Premier League 2024/2025 berakhir dengan catatan memalukan: MU finis di posisi ke-15, posisi terendah dalam lebih dari lima dekade. Setelah hasil imbang 1-1 melawan Leeds United pada awal Januari, manajemen memutuskan untuk mengakhiri masa jabatannya. Dari 63 pertandingan yang ia pimpin, Amorim hanya meraih 23 kemenangan, 18 seri, dan 21 kekalahan—persentase menang 38 persen, yang menjadi yang terendah sejak Alex Ferguson pensiun pada 2013.
“Bukan soal taktik atau bakat. Kekakuan,” ujar Berrada dalam wawancara dengan Financial Times Weekend, seperti dikutip Mirror. “Dia datang di tengah badai, di mana adaptasi bukan pilihan, tapi kebutuhan. Tapi dia memilih berpegang pada ide-idenya, bukan pada kebutuhan tim.”
Amorim kini telah melanjutkan karier pelatihnya di Serie A, mengambil alih kursi pelatih AC Milan. Sementara itu, Manchester United menunjuk Darren Fletcher sebagai pelatih sementara hingga keputusan pelatih tetap berikutnya diumumkan.















