Sumbawanews.com,- Manchester – Enzo Maresca menegaskan bahwa keputusannya meninggalkan Chelsea di tengah musim bukanlah upaya untuk meruntuhkan klub yang pernah ia pimpin. Pernyataan itu ia sampaikan resmi setelah diumumkan sebagai pelatih baru Manchester City pada Senin, 29 Juni 2026.
Maresca, yang menangani Chelsea sejak musim panas 2024, berhasil membawa tim asal London itu meraih dua trofi besar dalam waktu singkat: Piala UEFA Conference League dan Piala Dunia Antarklub, keduanya diraih pada 2025. Namun, di penghujung Desember 2025, ia memutuskan mundur secara mendadak—keputusan yang memicu kekacauan di kubu Chelsea dan membuat posisi mereka di klasemen Liga Inggris anjlok dari peringkat lima menjadi sepuluh di akhir musim.
Kepindahannya ke Manchester City, yang mengontraknya hingga 2029, disebut telah dimulai sejak ia masih menangani Chelsea. Manajemen City mengakui telah mendekati Maresca sejak akhir 2025, dan bahkan menyetujui pembayaran kompensasi senilai Rp400 miliar kepada Chelsea sebagai bentuk penghormatan terhadap kontraknya yang masih berjalan.
Dalam pernyataan resmi di situs Manchester City, Maresca mengaku bahwa keputusan itu murni bersumber dari dirinya sendiri. “Saya menyadari bahwa kepergian saya di tengah musim menimbulkan gangguan besar bagi Chelsea. Saya meminta maaf atas semua dampaknya. Bukan niat saya untuk merusak apa yang telah kami bangun bersama,” ujarnya.
Ia juga menekankan rasa hormatnya terhadap klub, pemilik, dan para suporter Chelsea. “Saya diperlakukan dengan sangat baik. Kami meraih kesuksesan besar, dan kenangan-kenangan itu akan selalu saya simpan dengan hangat.”
Kehilangan Maresca memaksa Chelsea menunjuk Liam Rosenior sebagai pelatih sementara, namun hasilnya tak mampu memulihkan performa tim. Kegagalan meraih tiket Eropa musim depan menjadi konsekuensi nyata dari kepergian sang pelatih.
Sementara itu, Maresca kini siap mengambil alih tongkat estafet Pep Guardiola di Etihad Stadium, dengan tugas berat: mempertahankan dominasi City di Liga Inggris dan Eropa. Ia menolak menyebut keputusannya sebagai pengkhianatan. “Ini bukan soal meninggalkan Chelsea. Ini soal menerima tantangan baru—dengan hati yang tetap menghargai masa lalu.”















