Sumbawanews.com,- Dalam sebuah langkah tanpa preseden dalam sejarah Piala Dunia, Presiden Amerika Serikat Donald Trump direncanakan akan menyerahkan langsung trofi FIFA World Cup kepada tim juara pada final 20 Juli mendatang di New Jersey. Pernyataan ini diungkapkan oleh Presiden FIFA Gianni Infantino dalam wawancara eksklusif menjelang puncak turnamen, menegaskan bahwa Trump bukan sekadar tamu kehormatan, melainkan bagian integral dari momen paling sakral dalam sepak bola global.
Berbeda dengan edisi-edisi sebelumnya—di mana kepala negara tuan rumah hanya hadir sebagai penonton—kali ini, Trump akan berdiri di samping Infantino di atas panggung stadion, menyerahkan trofi berlapis emas itu kepada kapten tim pemenang. Ini adalah pertama kalinya dalam 94 tahun sejarah Piala Dunia, sejak turnamen pertama di Uruguay tahun 1930, seorang kepala negara asing—bukan tuan rumah—diberi kehormatan untuk memegang trofi tertinggi sepak bola dunia.
Infantino menjelaskan, keputusan ini merupakan bentuk penghargaan atas dukungan penuh pemerintah AS terhadap penyelenggaraan Piala Dunia 2026, yang menjadi turnamen pertama dengan tiga negara tuan rumah: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. “Ini bukan sekadar simbol. Ini adalah pengakuan atas komitmen luar biasa dalam infrastruktur, keamanan, dan visi global yang dibawa oleh Presiden Trump dan pemerintahnya,” ujar Infantino.
Meski Trump belum terlihat hadir di stadion selama fase grup, bahkan saat tim nasional AS menang sempurna di depan pendukungnya, sumber di dalam FIFA menyebut bahwa kehadirannya di final adalah prioritas tertinggi. Agenda kenegaraan yang padat, termasuk perayaan 250 tahun kemerdekaan AS di Gedung Putih, sempat membuat spekulasi muncul bahwa ia mungkin absen. Namun, tim komunikasi kepresidenan telah mengonfirmasi bahwa Trump akan menghentikan semua aktivitas resmi selama empat jam pada malam final demi hadir di MetLife Stadium.
Kehadiran Trump juga mengingatkan publik pada perannya di ajang Piala Dunia Antarklub FIFA 2023, ketika ia secara simbolis menyerahkan trofi kepada Chelsea setelah kemenangan mereka di Riyadh. Kini, skala momen itu dinaikkan ke level global.
Langkah ini menimbulkan perbandingan tajam dengan Piala Dunia 2018 di Rusia dan 2022 di Qatar, di mana Presiden Vladimir Putin dan Emir Qatar hanya menyaksikan dari tribun tanpa terlibat dalam seremoni penyerahan trofi. FIFA secara terbuka mengakui bahwa ini adalah “pembaruan tradisi”—menggabungkan politik, olahraga, dan diplomasi dalam satu momen yang dirancang untuk menjadi ikonik.
Penghargaan khusus FIFA Peace Award yang diberikan kepada Trump pada Desember 2025 juga menjadi bagian dari narasi ini. Ia menjadi penerima pertama penghargaan tersebut, sebuah langkah yang sempat menuai kontroversi, tetapi kini dianggap sebagai fondasi dari hubungan strategis antara FIFA dan pemerintah AS.
Jika rencana ini terealisasi, final Piala Dunia 2026 bukan hanya akan menjadi pertandingan sepak bola terbesar di dunia—tapi juga momen sejarah di mana kekuatan politik dan kekuatan olahraga berpadu dalam satu tindakan simbolis yang belum pernah terjadi sebelumnya.















