Sumbawanews.com,- Laga semifinal Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Inggris berakhir dengan kemenangan 2-1 bagi Tim Tango, namun hasil itu disertai sejumlah keputusan wasit yang memicu kemarahan suporter Inggris dan perdebatan sengit di media sosial. Pertandingan yang berlangsung di Mercedes-Benz Stadium pada Kamis, 16 Juli 2026, menyaksikan Argentina membalikkan keunggulan Inggris lewat gol Enzo Fernandez di menit ke-85 dan Lautaro Martinez di injury time, meski sejumlah insiden kontroversial terjadi sepanjang pertandingan.
Suporter Inggris menilai tiga keputusan wasit berpihak secara tidak adil kepada Argentina. Pertama, tekel keras Enzo Fernandez terhadap Elliot Anderson di babak pertama tidak dihukum dengan kartu kuning, padahal banyak yang menganggapnya layak mendapat peringatan. Kedua, gol penyama kedudukan Argentina yang diciptakan Fernandez setelah umpan Messi dinilai oleh sebagian pihak berasal dari posisi offside, namun wasit dan VAR tetap mengesahkannya. Ketiga, gol kemenangan Lautaro Martinez di masa injury time disebut-sebut berasal dari pelanggaran Messi terhadap Djed Spence sebelum umpan silang diberikan, tetapi tidak ada kartu atau peninjauan ulang yang dilakukan.
Meski demikian, Inggris sempat unggul 1-0 lewat gol Anthony Gordon pada menit ke-55 setelah umpan silang Morgan Rogers. Argentina baru bisa bangkit setelah tekanan berkelanjutan, dengan Jordan Pickford tampil gemilang menyelamatkan gawangnya dari sundulan Nico Gonzalez dan tembakan Alexis Mac Allister yang membentur tiang. Kekalahan ini membuat Inggris gagal melangkah ke final, sementara Argentina melaju ke partai puncak untuk kedua kalinya berturut-turut sejak 2014.
Kemarahan fans Inggris pun meledak di platform media sosial, dengan tagar #TheThreeLionsRobbed menjadi tren global. Beberapa media Inggris bahkan menuduh Argentina melakukan 31 trik kotor selama laga. Sementara itu, pelatih Argentina Lionel Scaloni memuji mental timnya yang tak kenal menyerah, sementara manajer Inggris Thomas Tuchel mengakui kekecewaan mendalam atas hasil yang dirasa tidak adil.
Argentina mengoleksi tiga kartu kuning dalam pertandingan, sementara Inggris hanya menerima satu. Duel yang berlangsung sengit dan penuh emosi ini tidak hanya menentukan siapa yang akan bertarung di final, tetapi juga memicu debat panjang tentang keadilan dalam pengambilan keputusan wasit di level tertinggi sepak bola dunia.















