Sumbawanews.com,- Piala Dunia 2026 menyisakan sejumlah keputusan VAR yang memicu kemarahan tim, suporter, dan pakar sepak bola. Dalam turnamen yang berakhir pada 13 Juli 2026, teknologi penolong wasit kembali menjadi sorotan tajam, terutama setelah Lionel Messi lolos dari kartu merah dalam laga Argentina vs Aljazair, insiden yang menjadi puncak kontroversi sepanjang turnamen. Berbagai keputusan lain, mulai dari gol yang dianulir karena offside sekecil milimeter hingga penalti yang tidak diberikan meski pelanggaran jelas, memicu protes massal dan permintaan revisi dari FIFA.
Di urutan kesepuluh, gol Mostafa Zico dari Mesir ke gawang Argentina pada menit ke-53 dianulir karena wasit menilai Marwan Attia melakukan pelanggaran terhadap Lisandro Martinez sebelum bola masuk. Kubu Mesir mengajukan protes resmi, menyatakan insiden pelanggaran terlalu jauh dari proses penciptaan gol. Di peringkat sembilan, Ghana kehilangan peluang penalti saat Ezri Konsa menjatuhkan Prince Adu di kotak penalti melawan Inggris—VAR memutuskan tidak ada pelanggaran, sebuah keputusan yang langsung menjadi bahan perdebatan global.
Vinicius Junior juga menjadi korban VAR ketika golnya ke gawang Skotlandia dianulir karena dianggap melakukan kontak dengan Jack Hendry. Meski kontak dinilai sangat ringan, VAR tetap memutuskan pelanggaran. Kolombia pun kehilangan gol akibat offside tipis hanya beberapa milimeter saat melawan Portugal, sebuah keputusan yang bahkan dikritik oleh legenda Inggris, Wayne Rooney, sebagai terlalu kaku. Sementara itu, Jerman beruntung ketika gol mereka ke gawang Ekuador tetap sah meski Pedro Vite masih tergeletak di lapangan setelah terkena tendangan sepatu, tanpa ada peninjauan ulang dari VAR.
Di babak 32 besar, Jerman kembali dirugikan saat gol mereka ke gawang Paraguay dianulir karena Waldemar Anton dianggap melakukan pelanggaran terhadap kiper Orlando Gill saat sepak pojok—banyak yang menyebut kontaknya terlalu ringan untuk dihukum. Kroasia juga kehilangan gol penyama kedudukan melalui Josko Gvardiol karena VAR menilai Igor Matanovic menyentuh bola sebelum Mario Pasalic yang berada dalam posisi offside memberi umpan, meski sentuhan bek Portugal dianggap tidak disengaja.
Kontroversi terus berlanjut ketika Kylian Mbappe tidak mendapat penalti setelah dijatuhkan Sadio Mane di kotak penalti melawan Senegal. VAR meminta wasit meninjau ulang, tetapi keputusan akhir justru mengubah tendangan sudut menjadi tendangan gawang, dengan alasan Mbappe lebih dulu memulai kontak. Di sisi lain, Folarin Balogun dari Amerika Serikat mendapat kartu merah setelah sepatunya mengenai betis Tarik Muharemovic, namun hukuman itu akhirnya dicabut setelah ditinjau ulang oleh komite disiplin FIFA, memungkinkan Balogun kembali bermain melawan Belgia.
Namun, semua kontroversi itu terlupakan ketika Lionel Messi lolos dari kartu merah setelah menendang betis Aissa Mandi dalam pertandingan Argentina vs Aljazair. Banyak pihak, termasuk analis dan mantan wasit, menyatakan bahwa kontak dengan telapak kaki Messi memenuhi kriteria kartu merah. Namun, VAR tidak merekomendasikan peninjauan ulang kepada wasit utama, dan Messi tetap bermain—bahkan mencetak hattrick dalam kemenangan 4-1 Argentina. Keputusan ini menjadi titik paling panas sepanjang Piala Dunia 2026, memicu seruan dari sejumlah federasi untuk merevisi pedoman penerapan VAR dalam kasus pelanggaran fisik.













