Sumbawanews.com,- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) merilis hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD tahun 2026, dan DI Yogyakarta menjadi provinsi dengan capaian tertinggi secara nasional di kedua mata pelajaran utama: Bahasa Indonesia dan Matematika. Dengan rata-rata nilai 75,14 untuk Bahasa Indonesia dan 61,64 untuk Matematika, Daerah Istimewa Yogyakarta unggul jauh dari daerah lain, termasuk DKI Jakarta yang berada di posisi kedua.
Hasil yang dirilis Selasa (2/6/2026) menunjukkan bahwa rerata nasional untuk Bahasa Indonesia berada di angka 60,14, sementara Matematika masih tertinggal di 43,41. Meski secara umum literasi lebih kuat daripada numerasi, kesenjangan ini justru semakin terlihat tajam di sejumlah wilayah, terutama di Papua dan Nusa Tenggara, yang mencatat nilai Matematika di bawah 37.
Di sisi lain, Yogyakarta tidak hanya memimpin, tetapi juga menunjukkan konsistensi tinggi di kedua disiplin ilmu. Nilai Bahasa Indonesia di DIY hampir menyentuh 76—lebih dari 15 poin di atas rata-rata nasional—sedangkan capaian Matematika sebesar 61,64 melampaui provinsi terdekat, DKI Jakarta (51,38), hingga lebih dari 10 poin. Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menekankan bahwa TKA bukan alat penilaian kompetitif, melainkan cermin reflektif untuk memperkuat kebijakan pendidikan.
“TKA dirancang untuk membantu kita memahami di mana sistem pembelajaran berjalan baik, dan di mana perlu intervensi lebih mendalam,” ujar Toni. Ia menambahkan, hasil ini seharusnya menjadi dasar kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah, guru, dan komunitas pendidikan untuk membangun strategi peningkatan yang berkelanjutan.
Provinsi lain yang menunjukkan performa kuat termasuk Kepulauan Riau (Matematika: 48,78), Jawa Tengah (Bahasa Indonesia: 65,14), dan Jawa Barat, meski masih jauh di belakang DIY. Sementara itu, wilayah timur Indonesia seperti Papua, NTT, dan Maluku masih berjuang untuk mengejar standar nasional, dengan nilai Matematika di bawah 37 dan Bahasa Indonesia di kisaran 50.
Analisis awal menunjukkan bahwa keberhasilan Yogyakarta mungkin terkait dengan integrasi kuat antara kebijakan pendidikan daerah, ketersediaan guru terlatih, dan budaya literasi yang kuat di masyarakat—termasuk dukungan dari lembaga pendidikan tinggi dan perpustakaan publik yang aktif. Di kota-kota seperti Yogyakarta dan Sleman, program baca malam, pelatihan guru berkelanjutan, dan pendekatan berbasis proyek di sekolah dasar terbukti memberi dampak nyata.
Kemendikdasmen berencana mempublikasikan analisis mendalam terhadap faktor-faktor pendukung keberhasilan daerah-daerah unggul, termasuk studi kasus dari DIY, sebagai panduan nasional. Tujuannya jelas: bukan untuk membanggakan pencapaian, tetapi untuk meniru yang berhasil.
Dengan TKA menjadi instrumen evaluasi berkelanjutan, hasil 2026 bukan akhir, melainkan awal dari upaya sistematis membangun pendidikan dasar yang lebih adil, berkualitas, dan berpihak pada anak-anak di seluruh penjuru Nusantara.















