Sumbawanews.com,- Bambang Setiawan, warga Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, tewas setelah ditemukan pingsan dalam kerusuhan di Jalan Pejompongan Raya pada Kamis malam, 27 Agustus 2026. Ia sehari-hari berjualan di pinggir jalan tersebut dan sempat pulang ke rumah sekitar pukul 21.00 WIB setelah mengantar seorang tetangga yang sakit ke Rumah Sakit Pelni. Saat itu, kondisi di lokasi relatif tenang dan massa sedang didorong mundur. Namun, beberapa jam kemudian, Bambang kembali keluar rumah untuk melihat situasi, seperti biasa, dan tak kunjung pulang.
Istrinya, Sudarsi, mulai khawatir dan mencari suaminya hingga pukul 01.30 WIB. Ia sempat meminta warga sekitar untuk mengingatkan Bambang agar pulang jika ditemukan. Pada pukul 02.30 WIB, ia menerima pesan dari Tagor, tetangga yang diantar Bambang ke rumah sakit, yang mengira pesan itu berasal dari Bambang. Setelah dikonfirmasi, ternyata pesan itu berasal dari Sudarsi sendiri. Keluarga baru mendapat kepastian bahwa Bambang menjadi korban sekitar pukul 03.00–04.00 WIB, saat jenazahnya dibawa ke RS Polri Kramat Jati.
Keluarga tidak menyaksikan langsung kejadian yang menimpa Bambang. Identitasnya baru dipastikan setelah anaknya membandingkan sosok dalam video dengan wajah sang ayah. Mereka hanya mengetahui bahwa Bambang menjalani visum luar, namun tidak diizinkan melakukan visum dalam. Keluarga juga menolak permintaan otopsi dari polisi dan telah menandatangani surat pernyataan penolakan.
Polisi menjelaskan bahwa Bambang ditemukan dalam kondisi pingsan setelah lokasi dinyatakan aman. Ia kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit TNI AL Dr. Mintohardjo, tetapi dinyatakan meninggal dunia saat mendapat penanganan. Jenazahnya dibawa ke RS Polri untuk identifikasi dan rencananya akan dimakamkan di Kemang Kencana pada hari yang sama, Jumat, 28 Agustus 2026. Menurut Sudarsi, suaminya tidak memiliki penyakit bawaan, meski tidak rutin menjalani pemeriksaan kesehatan.















