Sumbawanews.com,- Jagat maya sempat heboh dengan viralnya foto seorang wanita paruh baya yang tampak berjaga di pos ronda malam di Dusun Watuagung, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Namun, Kepala Desa Watuagung, Didik Hariyanto, segera memberikan klarifikasi yang mengejutkan: perempuan itu bukan korban paksaan, melainkan inisiatif pribadi untuk menggantikan anaknya yang sedang berhalangan.
Foto yang beredar memang menunjukkan satu sosok perempuan berdiri di pos kamling, namun kenyataannya, ia bukan satu-satunya yang bertugas. Didik menjelaskan, ada seorang perempuan lain yang turut berjaga, hanya saja bagian tubuhnya tidak terlihat karena foto yang viral hanya memotong sebagian gambar. “Ini bukan kejadian yang disengaja untuk dipertontonkan, tapi murni keputusan pribadi,” ujar Didik kepada detikJatim.
Kegiatan ronda malam di Desa Watuagung memang sudah menjadi kesepakatan bersama antarwarga. Setiap kepala keluarga wajib bergiliran menjaga keamanan lingkungan, terutama di daerah yang berada di lereng Gunung Arjuno dan rawan kejahatan. Namun, aturan ini tidak bersifat kaku—warga diberi kebebasan untuk menyesuaikan dengan kondisi keluarga.
Wanita berinisial En (53) yang menjadi pusat perhatian itu biasanya menugaskan anak-anaknya untuk menjaga pos ronda. Namun, pada malam itu, anak-anaknya berhalangan karena urusan mendadak. Tanpa diminta, En pun mengambil alih tugas itu. “Dia datang sendiri, bilang ‘saya ganti anak saya’. Tidak ada yang memaksa,” tegas Didik.
Kades yang akrab dengan warganya ini juga menegaskan bahwa tidak ada kebijakan resmi yang mewajibkan perempuan ikut ronda atau memberlakukan denda bagi yang tidak hadir—seperti yang disebarkan di sejumlah unggahan viral. “Itu hoaks. Kami tidak pernah membuat aturan seperti itu,” ujarnya tegas.
Menanggapi respons publik yang beragam, Didik berencana mengevaluasi sistem ronda agar lebih inklusif dan transparan. Ia ingin memastikan bahwa partisipasi warga, baik laki-laki maupun perempuan, tetap didasarkan pada kesadaran dan kebersamaan, bukan tekanan atau stigma.
Kisah En menjadi simbol kecil namun kuat: kepedulian warga terhadap keamanan lingkungan tidak mengenal gender. Di tengah arus informasi yang sering memutarbalikkan fakta, kehadiran En di pos ronda bukanlah pelanggaran, melainkan bukti nyata bahwa rasa tanggung jawab bisa datang dari siapa saja—bahkan dari seorang ibu yang rela menggantikan anaknya demi keamanan bersama.















