Sumbawanews.com,- Jakarta – Televisi Republik Indonesia (TVRI) menegaskan bahwa siaran resmi Piala Dunia 2026 akan disampaikan secara gratis kepada seluruh masyarakat Indonesia, sesuai mekanisme yang ditetapkan FIFA dan diatur dalam perjanjian hak siar yang sah. Direktur Utama TVRI Fiki Satari menjelaskan, hak siar yang diperoleh lembaga penyiaran negara ini mencakup tiga ajang utama FIFA hingga 2027: Piala Dunia 2026, Piala Dunia U-17 2026, dan Piala Dunia Wanita 2027.
Hak siar ini diperoleh melalui Media Rights Agreement yang ditandatangani pada Desember 2025, dengan masa berlaku selama 180 hari sebelum dan setelah setiap event berlangsung. Fiki menekankan, TVRI hanya memperoleh hak penyiaran—bukan hak penyelenggaraan atau pengelolaan kompetisi. Akses ke feed resmi pertandingan, serta distribusi melalui kanal yang ditentukan FIFA, menjadi bagian integral dari kesepakatan tersebut.
“Kami tidak mengelola turnamen, tapi memastikan masyarakat bisa menikmati pertandingan dengan kualitas tinggi dan tanpa biaya,” ujar Fiki dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (20/6/2026).
Siaran akan disalurkan melalui tiga platform resmi: siaran terestrial gratis di TVRI Nasional dan TVRI Sport, layanan OTT melalui Folaplay dan MAXStream, serta layanan DTH via Transvision, K-Vision, dan Indovision. Penyiaran di saluran televisi gratis menjadi prioritas utama, sebagai bentuk komitmen TVRI sebagai lembaga publik yang melayani seluruh lapisan masyarakat.
Fiki juga menanggapi spekulasi soal besaran biaya hak siar. Ia menegaskan, seluruh proses pembayaran telah dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan, mulai dari telaah kebutuhan, koordinasi lintas unit teknis, hukum, dan keuangan, hingga pengajuan anggaran negara yang transparan. “Besaran yang dibayarkan ke FIFA sama persis dengan nilai kontrak. Tidak ada selisih, tidak ada penyimpangan. Semua berjalan sesuai prinsip akuntabilitas dan tata kelola yang baik,” tegasnya.
Dalam hal distribusi, TVRI mematuhi batasan geografis yang ditetapkan FIFA. Siaran hanya boleh disebarkan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan sistem enkripsi dan pembatasan akses wilayah yang ketat untuk mencegah kebocoran konten. “Ini bukan soal keuntungan, tapi soal kepatuhan hukum dan perlindungan hak intelektual,” lanjut Fiki.
Meski sejumlah platform swasta turut menayangkan siaran, Fiki menegaskan bahwa TVRI tetap menjadi satu-satunya penyiar publik yang menyediakan akses gratis tanpa langganan. “Kami menghargai berbagai masukan publik. Tapi kami juga harus menjaga keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan kewajiban kontraktual,” katanya.
TVRI berharap, Piala Dunia 2026 bukan hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga momen persatuan bagi bangsa. “Kami ingin setiap keluarga di pelosok, di kota, di pulau terpencil, bisa menonton bersama tanpa hambatan. Itulah misi kami,” pungkas Fiki.















