Sumbawanews.com,- Islah Bahrawi, Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, mengungkap bahwa dirinya dan keluarganya menjadi sasaran pengawasan intensif selama dua minggu terakhir oleh enam orang yang teridentifikasi sebagai anggota TNI. Pengintaian ini, menurutnya, bukan kejadian spontan, melainkan operasi sistematis yang berlangsung sejak sebelum ia menyadarinya.
Pengawasan dimulai sekitar 17–25 Mei 2026, ketika mobil berplat A 1299 NB kerap terlihat memarkirkan diri di sekitar rumahnya di Jakarta, dalam radius 100 meter. Tak hanya itu, sejumlah orang tak dikenal juga memotret aktivitas keluarganya, termasuk tamu yang berkunjung. Tetangga-tetangga pun mengaku dimintai informasi pribadi tentang Islah—mulai dari pekerjaannya, kebiasaan, hingga riwayat keluarganya—ketika ia sedang tidak berada di rumah.
Dengan bantuan warga sekitar, Islah berhasil mengumpulkan bukti visual dari rekaman CCTV, serta perangkat teknis seperti direction finder dan perangkat lunak pelacak yang digunakan para penguntit. Dari hasil analisis jaringan sosial dan koneksi institusional, ia menyimpulkan bahwa keenam orang tersebut adalah anggota TNI. “Saya perjelas, anggota TNI,” tegasnya di kantor YLBHI, Jakarta, Jumat, 5 Juni 2026.
Meski belum bisa mengidentifikasi satuan tempat mereka bertugas, Islah meyakini bahwa pengintaian ini terkait dengan kritiknya terhadap militerisasi kekuasaan. Ia menjadi salah satu tokoh yang dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada 8 April 2026, bersama Saiful Muzani dan Ubedilah Badrun, atas dugaan penghasutan setelah menyampaikan pandangan anti-remiliterisasi dalam diskusi Halal Bihalal Pengamat pasca-Lebaran 2026.
Kepala Pusat Penerangan Markas Besar TNI, Brigjen TNI Muhammad Nas, merespons dengan menegaskan bahwa TNI akan menindaklanjuti jika ada bukti konkret keterlibatan personelnya. “Pastinya TNI akan menindaklanjuti,” ujarnya kepada Tempo.
Islah, yang juga tokoh Nahdlatul Ulama, menilai bahwa aksi ini bukan sekadar intimidasi personal, tapi bagian dari upaya memetakan dan menekan suara kritis di tengah dinamika politik nasional. “Ini operasinya tentara. Saya punya kesimpulan besar,” katanya, menekankan bahwa kebebasan sipil kini semakin terancam oleh kekuatan yang seharusnya melindungi.
Hingga kini, pengawasan terhadapnya belum berhenti—meski mobil yang awalnya menguntit telah berganti, para pengintai tetap berada di sekitar.

















