Sumbawanews.com,- Mendagri Tito Karnavian hadir melayat ke rumah duka almarhum Jenderal TNI Purnawirawan Ryamizard Ryacudu di Perumahan Puri Wira Bhakti, Cikeas, Bogor, pada Minggu malam (31/5/2026). Dalam kesempatan itu, Tito tak hanya menyampaikan duka mendalam atas kepergian sosok yang pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan, tetapi juga mengenang kedekatan pribadi yang jauh melampaui urusan jabatan.
“Saya dan almarhum pernah duduk dalam satu kabinet, dia Menhan, saya Mendagri. Tapi lebih dari itu, kami punya ikatan yang lebih dalam—ikatan kampung halaman,” ujar Tito, mengingat masa-masa ketika ia masih berada di Palembang, Sumatera Selatan.
Menurut Tito, ia kerap menghadap langsung ke kediaman Ryamizard, bukan untuk membahas kebijakan nasional atau urusan kementerian, melainkan untuk membicarakan hal-hal yang lebih personal: soal adat, soal kepentingan masyarakat lokal, soal kehidupan di tanah Sumatera Selatan dan Lampung—wilayah yang menjadi akar budaya keduanya.
“Beliau selalu terbuka, bahkan ketika saya datang hanya untuk ngobrol soal tanah kelahiran, soal tradisi, soal orang-orang di kampung. Itu yang paling saya ingat: seorang jenderal yang tetap merasa bagian dari tanah asalnya,” katanya dengan nada berbinar, meski mata terlihat berkaca-kaca.
Tito menegaskan, kepergian Ryamizard bukan hanya kehilangan bagi institusi militer atau pemerintahan, tapi juga bagi mereka yang menghargai nilai-nilai kekeluargaan dan kearifan lokal yang masih hidup dalam diri tokoh-tokoh seperti beliau. “Kita semua manusia, tak lepas dari salah dan dosa. Kita memaafkan semua kekurangannya, dan mendoakan agar Allah SWT memberinya tempat terbaik di sisi-Nya,” ucapnya, sebelum menundukkan kepala dalam doa.
Ryamizard Ryacudu, yang meninggal pada usia 76 tahun, akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta, pada Senin (1/6/2026). Sejumlah tokoh militer, politik, dan masyarakat adat telah berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir. Dari Kepala Staf TNI AD hingga mantan Panglima TNI, semua menyebutnya sebagai sosok yang tegas namun hangat, disiplin namun tak pernah lupa asal-usulnya.
Di tengah arus modernitas yang sering mengaburkan ikatan kultural, kehadiran Tito Karnavian di rumah duka—bukan hanya sebagai pejabat, tapi sebagai anak Sumatera yang menghormati sesepuhnya—menjadi simbol kuat bahwa nilai-nilai lama masih hidup, bahkan di puncak kekuasaan.















