Sumbawanews.com,- Rumah Tahanan Kelas IIB Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, menggelar sosialisasi kesehatan menyeluruh untuk mencegah penyebaran Hantavirus di lingkungan pemasyarakatan. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis lalu diikuti puluhan warga binaan dari berbagai blok hunian, dipimpin langsung oleh Kepala Rutan Fitri Yadi bersama tim medis setempat.
Dalam paparannya, Fitri Yadi menekankan bahwa kepadatan hunian di rutan menjadi faktor risiko tinggi penularan penyakit menular, terutama yang bersumber dari hewan pengerat. “Kami tidak bisa hanya menunggu kasus muncul. Edukasi dini adalah bentuk pencegahan paling efektif,” ujarnya.
Tim medis menjelaskan secara rinci mekanisme penularan Hantavirus—yang ditularkan melalui inhalasi partikel urine, tinja, atau air liur tikus yang terkontaminasi virus. Para warga binaan diajak memahami bahwa risiko ini bukan abstrak, tapi nyata dan bisa dicegah dengan perilaku sehari-hari.
Gejala awal yang harus diwaspadai pun dijabarkan secara jelas: demam mendadak tinggi, nyeri otot hebat terutama di punggung dan paha, serta gangguan pernapasan yang bisa berkembang menjadi sindrom hantavirus pulmoner—kondisi berpotensi mematikan jika tidak ditangani segera.
Untuk itu, petugas memberikan panduan praktis yang bisa langsung diterapkan: menyimpan makanan dalam wadah kedap udara, membersihkan area hunian setiap hari, menghindari menumpuk sampah, serta melaporkan keberadaan tikus atau jejaknya kepada petugas. “Jangan anggap remeh kebersihan sel. Ini bukan soal kenyamanan, tapi soal nyawa,” tegas salah satu perawat yang memandu sesi.
Kegiatan ini juga menekankan pentingnya kesadaran kolektif. Warga binaan diminta saling mengingatkan, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk seluruh komunitas di dalam rutan. “Kami ingin budaya hidup bersih menjadi kebiasaan, bukan sekadar aturan,” tambah Fitri.
Langkah proaktif ini menjadi bagian dari upaya sistematis Rutan Baturaja dalam membangun lingkungan pemasyarakatan yang sehat dan aman. Dengan pendekatan edukatif yang humanis, pihak manajemen berharap tidak hanya penyebaran Hantavirus yang terhenti, tetapi juga kesadaran akan kesehatan lingkungan yang terus tumbuh di kalangan warga binaan—bahkan setelah mereka kembali ke masyarakat.

















