Sumbawanews.com,- Yerusalem — Di bawah langit pagi yang cerah namun dipenuhi ketegangan, ribuan umat Muslim memadati halaman Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur pada Rabu (27/5/2026) untuk melaksanakan salat Iduladha 1447 H. Pemandangan yang penuh kekhusyukan itu terjadi di tengah peningkatan kekerasan militer Israel di Tepi Barat, yang memaksa warga Palestina beribadah di bawah bayang-bayang ancaman.
Meski dikelilingi pasukan bersenjata dan patroli kendaraan militer, jemaah dari berbagai penjuru Tepi Barat tetap berbondong-bondong ke lokasi suci itu. Beberapa di antaranya datang dari kota-kota yang baru saja menjadi sasaran serangan, seperti Dura di selatan Hebron, di mana tentara Israel memasuki pusat kota pada jam-jam sibuk belanja menjelang hari raya, menembakkan gas air mata dan memaksa toko-toko tutup demi mengganggu persiapan warga.
Iduladha, yang jatuh pada hari pertama liburan empat hari, bukan sekadar perayaan keagamaan. Bagi warga Palestina, ini adalah bentuk ketahanan spiritual di tengah pendudukan yang berkelanjutan. Sejak Oktober 2023, ketika konflik di Gaza meletus, Israel telah meningkatkan serangan di Tepi Barat—mulai dari penangkapan massal, penghancuran rumah, hingga pembunuhan yang tercatat hampir setiap hari. Pada hari raya ini, upaya menghalangi ibadah di Al-Aqsa kembali menjadi sorotan internasional.
Sebelumnya, pada April lalu, delapan negara Muslim, termasuk Indonesia, secara resmi mengecam tindakan Israel yang membatasi akses ke situs suci tersebut. Kini, meski penjagaan ketat masih berlangsung, jemaah berhasil memenuhi halaman masjid hingga ke sisi-sisi terluar, dengan imam yang membacakan takbir dari atas mimbar, suaranya menggema di antara deru helikopter militer yang melintas di atas.
Di tengah keheningan salat, seorang kakek berusia 72 tahun dari Ramallah, yang mengenakan jubah lusuh dan membawa tas berisi sajadah usang, berkata pelan, “Kami tidak datang karena aman. Kami datang karena ini adalah kewajiban. Dan tak ada yang bisa menghalangi kami dari Tuhan.”
Sementara itu, di luar dinding kota tua, pemerintah Palestina baru saja mencairkan sebagian gaji pegawai negeri untuk membantu warga membeli hewan kurban—sebuah simbol kebangkitan di tengah penderitaan. Di beberapa desa, keluarga berbagi daging kurban meski sumber daya terbatas, sementara di Yerusalem, para relawan mendistribusikan makanan dan air ke jemaah yang berdesakan di bawah terik matahari.
Ketegangan ini tidak berhenti di Al-Aqsa. Di kota-kota lain seperti Nablus dan Jenin, serangan serupa terjadi, dan sejumlah warga terluka saat mencoba mencapai tempat ibadah. Namun, tak satu pun dari mereka yang memilih untuk tinggal di rumah.
Dalam konteks global, Iduladha tahun ini menjadi pengingat bahwa kebebasan beribadah bukanlah hak yang bisa dianggap remeh—terutama di tanah yang telah menjadi simbol perjuangan selama puluhan tahun. Di tengah keheningan salat, ribuan suara takbir yang bersatu bukan hanya doa, tapi juga pernyataan: kami masih ada. Dan kami tidak akan pergi.















