Sumbawanews.com,- Pascakebakaran dahsyat yang menghanguskan ratusan rumah di kawasan Permukiman Pasar Jiung, Kemayoran, Jakarta Pusat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai mempersiapkan rencana penataan ulang menyeluruh. Kebakaran yang terjadi pada Senin (1/6/2026) itu menghancurkan sekitar 250 bangunan, memaksa lebih dari 500 warga mengungsi, dan memperparah persoalan struktural di permukiman padat yang telah lama mengkhawatirkan pihak berwenang.
Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Pembangunan dan Tata Kota, Nirwono Joga, menegaskan bahwa fase tanggap darurat masih berlangsung. Namun, di balik upaya evakuasi dan bantuan darurat, tim teknis dari tiga dinas utama telah mulai bekerja untuk merancang solusi jangka panjang. Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan (Citata) akan mengevaluasi ulang tata ruang kawasan, sementara Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman fokus pada desain fisik pemukiman baru. Sementara itu, Pemerintah Kota Jakarta Pusat bertanggung jawab memastikan aspek sosial dan psikologis warga terpenuhi.
Yang menjadi sorotan utama bukan sekadar membangun kembali rumah-rumah yang hangus. Nirwono menekankan bahwa penataan ini harus menyentuh akar masalah: jaringan utilitas yang kumuh dan rentan. “Kita tidak bisa hanya membangun rumah baru di atas puing lama. Jaringan listrik, gas, dan air bersih harus dibenahi secara sistematis,” ujarnya, mengacu pada data Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) yang menyebut 70–80 persen kebakaran di permukiman padat Jakarta dipicu oleh korsleting listrik.
Rencana ini tidak hanya berlaku untuk Kemayoran. Kejadian ini dianggap sebagai peringatan keras bagi seluruh kawasan kumuh di Ibu Kota. Pemprov DKI berencana melakukan audit menyeluruh terhadap jaringan listrik dan infrastruktur dasar di permukiman padat lainnya, dengan tujuan mencegah bencana serupa terulang. Penataan ulang akan mencakup lebar jalan akses, pemisahan fungsi ruang, pengaturan kabel listrik bawah tanah, serta penyediaan saluran air dan gas yang aman dan terstandarisasi.
Warga yang kehilangan rumah dan harta benda kini mengungsi di lahan milik Jusuf Hamka di sekitar lokasi kebakaran. Pemprov berjanji akan memastikan mereka tidak ditinggalkan dalam proses pemulihan. Namun, yang lebih penting, pemerintah ingin mengubah pola pikir: dari respons darurat menuju pencegahan sistemik. “Ini bukan soal membangun kembali. Ini soal membangun dengan cara yang lebih cerdas, lebih aman, dan lebih manusiawi,” tegas Nirwono.
Kebakaran Kemayoran bukan sekadar bencana alam atau kecelakaan teknis. Ia adalah simbol dari ketidaksetaraan infrastruktur di kota besar. Dan kali ini, Pemprov DKI berjanji tidak akan membiarkan kesempatan untuk berubah terlewat.















