Sumbawanews.com,- Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyampaikan duka mendalam atas berpulangnya mantan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Dalam kesempatan melayat di kediaman almarhum di Cikeas, Bogor, Tito mengaku mengenal sosok Ryamizard bukan hanya sebagai rekan sejawat di kabinet, tetapi juga sebagai senior yang menjadi jembatan keakraban antar putra Sumatera.
“Saya dan beliau pernah bersama dalam satu kabinet—saya sebagai Mendagri, beliau sebagai Menhan. Tapi lebih dari itu, kami sama-sama dari Sumatera Selatan. Saya dari Palembang, beliau pun punya kediaman di Sumsel dan Lampung. Kami sering bicara soal kampung halaman, bukan hanya soal tugas negara,” ujar Tito, Senin (1/6/2026).
Kedekatan itu, menurut Tito, melampaui jabatan resmi. Mereka kerap berdiskusi tentang persoalan daerah, budaya, hingga tantangan yang dihadapi masyarakat di wilayah selatan Sumatera. “Itu bukan sekadar obrolan santai. Itu adalah ikatan kekeluargaan yang tumbuh dari tanah yang sama,” tambahnya.
Tito menggambarkan Ryamizard sebagai prajurit sejati yang tetap rendah hati, meski karier militernya melegenda. “Beliau adalah sosok yang teguh, berani, tapi tak pernah lupa asal. Seorang negarawan yang hidupnya dikorbankan untuk Indonesia—bukan hanya dalam tugas, tapi juga dalam kepedulian.”
Dengan suara bergetar, Tito mendoakan agar almarhum diterima di sisi-Nya. “Manusia tak pernah sempurna. Kami memaafkan semua kekurangannya, dan kami berdoa agar jalan menuju Sang Ilahi dipermudah. Husnul khatimah, semoga Allah merahmati beliau.”
Jenazah Ryamizard Ryacudu, yang meninggal pada usia 76 tahun setelah menjalani perawatan intensif, akan dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, pada Selasa (2/6/2026). Upacara pemakaman akan dipimpin langsung oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin sebagai inspektur upacara, sebagai penghormatan tertinggi negara terhadap seorang prajurit dan negarawan yang telah mengabdikan hidupnya untuk bangsa.
Sejumlah tokoh militer dan politik, termasuk Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, telah menyatakan kesediaan untuk hadir. Dalam berbagai kesempatan, para sesama perwira tinggi seperti Jenderal Dudung Abdurachman dan Letjen (Purn) OSO, juga mengenang Ryamizard sebagai figur yang tak pernah gentar mengambil keputusan sulit demi keutuhan negara.
Dengan berpulangnya Ryamizard, Indonesia kehilangan salah satu sosok yang menggabungkan kekuatan militer dengan ketulusan kebangsaan—seorang prajurit yang tak hanya mempertahankan tanah air, tapi juga menjaga jati diri bangsa.















