Sumbawanews.com,- Ratusan mahasiswa dari BEM Universitas Airlangga, BEM Seluruh Indonesia, dan Aliansi BEM Surabaya turun ke jalan pada Rabu, 17 Juni 2026, menyuarakan protes terhadap kebijakan pemerintah pusat, terutama kenaikan harga BBM non-subsidi dan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Aksi yang berlangsung di depan Gedung DPRD Kota Surabaya dan berlanjut ke Gedung Negara Grahadi ini tak hanya diisi oleh mahasiswa, tapi juga melibatkan penyandang disabilitas yang sehari-hari menjual es keliling—mereka menjadi simbol hidup dari dampak kebijakan yang dirasakan langsung oleh rakyat kecil.
Dengan poster bertuliskan “MBG: Gizi di Kertas, Kelaparan di Lapangan” dan “BBM Naik, Es Jualan Turun”, para peserta aksi menyoroti ketidaksesuaian antara janji pemerintah dengan realitas di lapangan. Salah seorang penjual es berkebutuhan khusus, yang enggan disebutkan namanya, mengatakan, “Saya jual es Rp5.000, sekarang gula naik, es jadi mahal dibuat. Tapi MBG yang dijanjikan justru tak sampai ke pasar tradisional, hanya ada di kantor-kantor.”
Mahasiswa menilai program MBG yang digadang-gadang sebagai solusi krisis pangan justru menjadi simbol pemborosan anggaran. Mereka menunjukkan data bahwa dana MBG yang dialokasikan miliaran rupiah lebih banyak mengalir ke kontraktor swasta dan proyek administratif, bukan ke pedagang kaki lima, ibu rumah tangga, atau penyandang disabilitas yang kesulitan menjangkau lokasi distribusi.
“Kami tidak menolak bantuan, tapi kami menolak kebijakan yang mengabaikan akar masalah,” ujar Rizky, koordinator aksi dari BEM Unair. “Kalau ingin benar-benar menjamin gizi rakyat, mulailah dari harga bahan pokok, bukan dari membangun dapur umum yang hanya jadi foto-foto acara resmi.”
Aksi ini juga menuntut transparansi anggaran, penghentian subsidi siluman untuk perusahaan energi, dan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan ekonomi di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Para peserta menekankan bahwa krisis bukan hanya soal harga, tapi soal keadilan distribusi.
Di tengah hiruk-pikuk aksi, seorang penyandang disabilitas tunanetra membacakan puisi pendek berjudul “Es yang Tak Terjual”, yang menggambarkan betapa sulitnya bertahan hidup ketika kebijakan pemerintah lebih fokus pada citra daripada kenyataan. Puisi itu kemudian diteriakkan bersama oleh ratusan massa, menjadi momen paling menggetarkan aksi tersebut.
Pihak kepolisian mengaku mengamankan aksi tanpa intervensi berlebihan, meski sempat terjadi penutupan sementara ruas jalan utama. Pemerintah kota Surabaya belum memberikan tanggapan resmi, namun sumber di Sekretariat Daerah mengatakan bahwa tim teknis sedang mengkaji keluhan yang disampaikan.
Aksi ini menjadi bagian dari gelombang protes nasional yang dimulai sejak 12 Juni, dan menunjukkan bahwa kritik terhadap kebijakan pemerintah kini tak lagi hanya datang dari kampus, tapi juga dari pinggiran—dari penjual es, pedagang pasar, dan mereka yang tak punya suara di meja rapat.















