Sumbawanews.com,- Dalam rangka menyambut Iduladha 1447 H, Kementerian Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif (Kemenbud) menyelenggarakan penyembelihan hewan kurban sebanyak 23 ekor sapi di Rumah Potong Hewan Gudang Sapi Tangerang, Kabupaten Tangerang. Pemotongan dilakukan pada Hari Tasyrik pertama, 11 Dzulhijjah, bertepatan dengan Kamis, 28 Mei 2026, setelah penyerahan simbolis oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon di halaman kantor Kemenbud, Senayan, Jakarta.
Sapi-sapi yang dikurbankan, terdiri dari ras Bali dan Limousin, masing-masing memiliki bobot antara 300 hingga 600 kilogram. Total berat keseluruhan mencapai sekitar 7,7 ton, dengan potensi daging yang bisa didistribusikan lebih dari 4 ton. Setiap paket daging kurban dikemas seberat 2 kilogram, yang nantinya akan disalurkan kepada para mustahik, termasuk pegawai Kemenbud di wilayah Jabodetabek, pada Jumat, 29 Mei 2026, tepat di hari kedua Iduladha.
Dalam sambutannya, Fadli Zon menekankan bahwa kurban bukan sekadar ritual keagamaan, tapi juga refleksi mendalam atas nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi budaya bangsa. “Iduladha mengajarkan kita tentang keikhlasan, solidaritas, dan pengorbanan tanpa pamrih. Ini adalah warisan budaya yang tak ternilai—di mana satu keluarga berbagi dengan yang lain, tanpa memandang status atau latar belakang,” ujar Fadli, dalam keterangan resmi.
Ia menambahkan, tradisi kurban justru menjadi bentuk nyata dari gotong royong yang telah mengakar sejak lama di masyarakat Indonesia. “Ketika kita menyembelih hewan kurban, kita tidak hanya memberi makan, tapi juga memperkuat tali silaturahmi, menumbuhkan empati, dan mengingatkan diri bahwa kebahagiaan sejati lahir dari berbagi,” lanjutnya.
Acara yang dihadiri sejumlah pejabat tinggi Kemenbud, termasuk staf khusus, kepala biro, direktur, dan inspektur jenderal, berlangsung dengan khidmat. Seluruh unit kerja di lingkungan Kemenbud—mulai dari direktorat hingga unit pelaksana teknis—berpartisipasi aktif dalam pengumpulan dan pendistribusian daging kurban, menunjukkan kesatuan komitmen antara institusi dan masyarakat.
Fadli berharap, momentum ini tidak hanya berhenti pada distribusi daging, tapi menjadi titik awal untuk membangun budaya kepedulian yang berkelanjutan. “Kurban adalah simbol. Tapi yang lebih penting adalah spiritnya—mengajarkan kita untuk selalu melihat ke sekeliling, dan bertindak ketika ada yang membutuhkan.”
Dengan demikian, 23 ekor sapi yang disembelih bukan sekadar angka, melainkan 23 cerita keikhlasan, 23 bentuk kepedulian, dan 23 pelajaran hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi—dalam nuansa keagamaan yang kental, namun bernafaskan budaya Nusantara.















