Sumbawanews.com,- Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengusulkan agar sepuluh kampus kedokteran dan sains berstandar internasional yang rencananya dibangun bersama Imperial College London tidak hanya terpusat di Jawa, tetapi tersebar merata di seluruh penjuru Nusantara. Usulan ini bertujuan memperkuat pemerataan akses pendidikan kedokteran berkualitas tinggi bagi masyarakat di daerah terpencil dan terluar.
Dalam pertemuan dengan delegasi Imperial College London di Istana Presiden pada Senin, 22 Juni 2026, pemerintah telah membahas kerja sama strategis untuk membangun ekosistem pendidikan medis yang berkelas dunia. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menjelaskan bahwa Imperial College — yang saat ini menempati peringkat keempat terbaik di dunia menurut QS World University Rankings — akan memberikan dukungan komprehensif, mulai dari penyusunan kurikulum, pelatihan dosen, penelitian kolaboratif, hingga pengiriman profesor tamu.
“Kami tidak ingin kualitas pendidikan kedokteran hanya dinikmati oleh kota-kota besar di Jawa,” kata Budi Gunadi saat ditemui di kompleks DPR, Jakarta, Selasa, 23 Juni 2026. “Kalau bisa, bangunlah satu di Kalimantan, satu di Sulawesi, satu di Maluku, satu di Nusa Tenggara, satu di Papua, dan satu lagi di Sumatera. Ini soal keadilan, bukan hanya soal infrastruktur.”
Rencana ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang pemerintah untuk mengatasi ketimpangan tenaga medis di Indonesia. Saat ini, lebih dari 70% dokter spesialis dan fasilitas pendidikan kedokteran berada di Jawa, sementara wilayah timur dan daerah perbatasan masih mengalami kekurangan drastis tenaga kesehatan berkualitas. Dengan membangun kampus-kampus baru di luar Jawa, pemerintah berharap dapat mencetak dokter-dokter yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga terikat secara emosional dan sosial dengan komunitas lokal mereka.
Brian menambahkan, dampak kerja sama ini tidak akan terbatas pada sepuluh kampus baru. “Ini akan menjadi katalisator bagi ratusan perguruan tinggi lain di Indonesia. Kurikulum yang disesuaikan dengan standar global, sistem penilaian yang transparan, dan budaya riset yang kuat — semua ini akan menular ke kampus-kampus lain,” ujarnya.
Imperial College London, yang dikenal unggul dalam bidang kedokteran, biomedis, dan inovasi kesehatan, telah menyatakan komitmennya untuk tidak sekadar menjadi mitra nama, tetapi aktif terlibat dalam transformasi sistem pendidikan medis Indonesia. Salah satu fokus utama adalah membangun pusat riset bersama yang mampu menjawab tantangan kesehatan spesifik Indonesia, seperti penyakit tropis, akses layanan kesehatan di daerah terpencil, dan ketahanan sistem kesehatan pasca-pandemi.
Langkah ini juga sejalan dengan visi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat pendidikan kedokteran di Asia Tenggara. Dengan dukungan teknis dan akademik dari lembaga global, pemerintah optimistis bahwa dalam 10–15 tahun ke depan, beberapa kampus medis Indonesia bisa masuk dalam daftar 500 besar dunia.
Kritik terhadap ketimpangan pendidikan tinggi di Indonesia memang telah lama bergema, tetapi kali ini, rencana ini memiliki kekuatan politik dan teknis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan dukungan dari dua menteri utama — Kesehatan dan Pendidikan — serta mitra internasional berkelas, usulan Budi Gunadi bukan sekadar wacana, melainkan langkah konkret menuju transformasi sistem kesehatan nasional yang lebih adil dan berkelanjutan.















