Sumbawanews.com,- Ahmad Ali, Ketua Harian DPP PSI, menyatakan bahwa Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, secara de facto telah menjadi bagian dari partainya—bukan hanya karena rencana penyematan jaket PSI, tapi karena serangkaian pernyataan dan tindakan politiknya yang selaras dengan agenda partai.
“Penyematan jaket memang simbolik, tapi yang lebih penting adalah runutan pernyataan Pak Jokowi sendiri,” ujar Ali dalam wawancara, Minggu (14/6/2026). “Ketika dia tegas di Kongres PSI di Solo, lalu memperkuat komitmennya di Rakernas Makassar bulan lalu—bahwa dia akan turun langsung ke kecamatan-kecamatan untuk mendampingi relawan PSI—itu bukan sekadar ucapan. Itu adalah pernyataan politik yang jelas.”
Menurut Ali, langkah Jokowi yang akan memulai safari politik di Lampung, Nusa Tenggara Timur, dan Jawa Barat pada Juni ini bukanlah hal yang aneh atau kontroversial. “Ini sama seperti perjalanan Ibu Mega, Pak SBY, atau bahkan saya sendiri dulu. Itu bagian dari dinamika politik yang wajar. Yang aneh justru ketika hal biasa ini dianggap tabu hanya karena pelakunya seorang mantan presiden.”
Pernyataan Ali menguatkan klaim sebelumnya dari Ketua DPP PSI Bestari Barus, yang menyebut penyematan jaket PSI kepada Jokowi sebagai bentuk resmi pengukuhan dirinya sebagai Ketua Dewan Pembina partai. Jaket tersebut akan disematkan langsung oleh Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, meski waktu pastinya belum diumumkan.
“Yang penting bukan kapan jaketnya disematkan, tapi bahwa publik menerima bahwa Pak Jokowi sudah berada di dalam ruang politik PSI—bukan lagi sebagai tokoh netral atau simbol nasional semata,” kata Bestari, Sabtu (13/6).
Kritik dari partai lain, terutama PDIP, yang menyebut langkah ini sebagai “pengkhianatan politik”, dianggap Ali sebagai upaya mengalihkan perhatian. “Mereka nyinyir karena takut kehilangan pengaruh. Tapi Jokowi bukan lagi milik siapa-siapa. Dia memilih jalannya sendiri—dan PSI siap mendampinginya.”
Sementara itu, PSI terus membangun infrastruktur politik untuk mendukung safari Jokowi, termasuk koordinasi dengan kader di tingkat desa dan pelibatan relawan lokal. Dalam beberapa hari ke depan, tim komunikasi PSI akan merilis peta strategis kunjungan yang mencakup 17 kabupaten/kota di tiga provinsi tersebut.
Dengan langkah ini, Jokowi tidak hanya dianggap sebagai figur yang bersimpati pada PSI—tapi secara politik, telah menjadi bagian dari mesin partai yang sedang membangun basis massa baru di luar struktur tradisional partai besar. Dan bagi Ahmad Ali, itu bukan sekadar simbol. Itu adalah realitas baru.

















