Home Berita Nasional Integritas Harus Ditanamkan Sejak Dini

Integritas Harus Ditanamkan Sejak Dini

Sumbawanews.com,- Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan bahwa pencegahan korupsi tak cukup hanya dengan aturan dan pengawasan semata. Fondasi sejati melawan praktik korup, kata dia, lahir dari penanaman nilai integritas sejak usia dini—di rumah, di sekolah, dan dalam setiap interaksi sehari-hari.

Dalam keterangan tertulisnya, Rerie—sapaan akrab Lestari—menyoroti Surat Edaran (SE) KPK Nomor 7 Tahun 2026 yang melarang pungli, siswa titipan, dan gratifikasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Meski diapresiasi sebagai langkah penting, ia menilai upaya itu masih bersifat reaktif. “Kita tidak bisa hanya menutup celah-celah kecurangan. Kita harus membangun sistem nilai yang tak bisa disogok,” ujarnya.

Data KPK memperkuat kekhawatirannya. Survei Penilaian Integritas Pendidikan 2024 menunjukkan indeks integritas sektor pendidikan baru mencapai 69,5 dari skala 100—masih jauh dari budaya yang melekat. Lebih mengkhawatirkan, 28% sekolah masih memungut biaya ilegal saat PPDB, sementara 23% menutup mata terhadap kecurangan dalam sertifikasi dan akreditasi. Di kalangan orang tua, 65% menganggap wajar memberi hadiah kepada guru, dan 30% tenaga pendidik menganggap gratifikasi sebagai hal biasa.

“Ini bukan soal uang. Ini soal karakter,” tegas Rerie, yang juga anggota Komisi X DPR RI. “Tanpa integritas, kita hanya melahirkan generasi cerdas secara akademik, tapi rapuh secara moral. Anak-anak yang diajari bahwa ‘semua bisa diatur’ dengan uang atau hubungan, akan tumbuh menjadi pemimpin yang tak takut pada kecurangan.”

Ia menekankan bahwa pendidikan antikorupsi harus substansial, bukan seremonial. Nilai kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian mengatakan ‘tidak’ harus menjadi bagian tak terpisahkan dari kurikulum, mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi. “Ketika seorang anak belajar bahwa kecurangan tidak diterima—bahkan dalam hal kecil seperti mencontek atau meminta kenaikan nilai—maka itulah awal dari perubahan besar.”

Lestari mengingatkan bahwa peran keluarga tak kalah krusial. Orang tua bukan hanya penonton, tapi teladan pertama. “Jika di rumah, ayah ibu menganggap ‘sedikit saja’ boleh, maka di sekolah, anak akan menganggap ‘sedikit saja’ korupsi pun tak apa.”

Dengan fondasi integritas yang kuat, ia berharap lahir generasi yang tidak hanya mampu bersaing secara akademik, tetapi juga berani menolak sistem yang tidak adil. “Korupsi bukan hanya masalah hukum. Ia adalah kegagalan pendidikan karakter. Dan kita tidak bisa menunggu sampai ia merajalela—kita harus mencegahnya sejak anak masih belajar berbagi mainan.”

Previous articleJakarta Tantang 9.000 Ton Sampah, Pramono Luncurkan Strategi Multi-Lokasi
Next articleLedakan di Kawasan Bekas Markas TPNPB-OPM di Kampung Toemalo Tewaskan Satu Warga
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.