Sumbawanews.com,- Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mendaki puncak Gunung Kerinci, gunung tertinggi di Sumatera, bersama sejumlah kader partai dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno. Namun, sebelum langkah pertama di jejak pendakian, ia menerima pesan tak terduga dari Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri: beli peluit.
Pesan itu bukan sekadar nasihat keamanan biasa. Megawati teringat pengalaman pribadinya saat masih mahasiswa di Universitas Indonesia, ketika ia mendaki gunung dan sempat tersesat tanpa alat komunikasi darurat. “Waktu bertemu Ibu Megawati, saya diminta membeli peluit untuk pendakian. Beliau teringat akan pengalamannya waktu di UI,” ujar Hasto, mengenang percakapan itu sebelum berangkat.
Dengan tekad yang teguh, Hasto—yang mengaku bukan pendaki profesional—menapaki jalur curam Gunung Kerinci bersama rombongan. Baginya, pendakian ini bukan sekadar tantangan fisik, tapi simbol perjuangan. “Bila dibandingkan dengan perjuangan Bung Karno membangun bangsa di tengah tekanan sejarah, tantangan mendaki gunung ini jauh lebih ringan,” katanya sambil menengok pemandangan luas dari puncak.
Di puncak, para kader PDIP memanjatkan doa untuk keselamatan bangsa, negara, dan keluarga Megawati. Tidak hanya spiritual, kegiatan ini juga menjadi momen refleksi politik. Sehari sebelumnya, Hasto berdialog langsung dengan kader DPC dan PAC PDIP di Kabupaten Kerinci. Ia mendengar laporan tentang kebutuhan masyarakat, tantangan internal partai, hingga harapan rakyat di pedesaan.
Dari pertemuan itu, Hasto menegaskan pesan utama: partai harus kembali ke akar rumput. “Partai harus turun, hadir di tengah masyarakat, memahami setiap persoalan yang mereka hadapi. Bukan hanya menunggu suara di pemilu, tapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari rakyat,” tegasnya.
Bupati Kerinci, Mohammad Noeh, menyambut hangat kunjungan tersebut. Ia mengapresiasi pemilihan Gunung Kerinci sebagai lokasi doa nasional, dan berharap momen ini bisa meningkatkan daya tarik wisata dan kebanggaan lokal. “Terima kasih Pak Hasto memilih Kerinci untuk berdoa bersama untuk negara,” ucap Noeh.
Di atas puncak yang dingin dan berdebu, pesan Megawati tentang peluit ternyata lebih dari sekadar alat keselamatan. Ia adalah simbol kewaspadaan—bahwa dalam perjalanan panjang membangun demokrasi dan keadilan sosial, partai harus selalu siap mendengar, merespons, dan berteriak jika ada yang salah. Seperti peluit yang menembus kabut, suara partai harus terdengar jelas, bahkan di tempat paling terpencil.















