Sumbawanews.com,- Musim kemarau yang berkepanjangan telah memicu krisis air bersih di sekitar Jakarta, terutama di Kabupaten Bogor dan Bekasi. Berdasarkan data BPBD Jawa Barat, sebanyak 214 ribu jiwa di 207 desa dan kelurahan terdampak kekeringan, dengan distribusi bantuan air bersih paling banyak dialirkan ke Kabupaten Bekasi. Sebanyak 4,3 juta liter air telah didistribusikan melalui mobil tangki dari BPBD dan Dinas Pemadam Kebakaran, sumbernya berasal dari mata air dan PDAM, sementara 2,2 juta liter khusus ditujukan untuk 27 ribu warga di Bekasi. Kepala BPBD Jawa Barat, Teten Ali Mulku Engkunnya, menyatakan status siaga darurat diberlakukan sejak 1 Juli hingga akhir September 2026, mengacu pada prediksi BMKG bahwa musim kemarau tahun ini lebih kering akibat fenomena El Nino.
Di Kabupaten Bandung, warga harus mengajukan permohonan secara bertahap—mulai dari desa, kecamatan, hingga dasbor pimpinan daerah—sebelum air bersih dikirim sesuai urutan permintaan. Kabupaten Bogor menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak terbanyak, mencapai 108 ribu orang. Untuk mengurangi beban biaya distribusi yang tinggi akibat harga solar, pemerintah daerah bersama BNPB tengah mengupayakan pembangunan saluran pipa air permanen dan pengeboran sumur baru. Pemerintah juga mendorong perusahaan untuk menyalurkan bantuan CSR dan mempertimbangkan modifikasi cuaca, meski hingga kini belum ada daerah yang mengajukan permohonan resmi untuk teknik tersebut.
Selain kekeringan, musim kemarau juga memicu kebakaran hutan dan lahan. Sejauh ini, 58 kejadian kebakaran tercatat di 68 desa, menjangkau 47 kecamatan di 14 kabupaten dan kota, dengan luas lahan terbakar mencapai 61,8 hektare. Kebakaran paling luas terjadi di Cirebon (19,7 hektare) dan paling sering di Sumedang dan Majalengka, diduga berasal dari bara sisa pembakaran sampah yang merembet. Berdasarkan pemantauan BMKG, 30 persen wilayah Jawa Barat mengalami kekeringan sangat panjang (31–60 hari tanpa hujan), terutama di bagian tengah Bogor, selatan Cianjur, Bandung, Garut, dan pantai utara dari Bekasi hingga Indramayu, sementara 55 persen wilayah lain mengalami kemarau panjang selama 21–30 hari.















