Sumbawanews.com,- Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, mengalami enam kali erupsi dalam sehari, memaksa otoritas penerbangan menutup sementara Bandara Frans Seda Maumere. Aktivitas vulkanik yang intens itu menyebabkan hujan abu tebal meliputi kawasan sekitar, mengganggu keselamatan penerbangan dan memaksa pembatalan lima penerbangan.
Kepala Bandara Frans Seda Maumere, Parthaian Panjaitan, mengonfirmasi penutupan berlaku mulai Jumat pagi hingga Sabtu pukul 06.00 WITA. Kolom abu vulkanik tercatat mencapai ketinggian 1.000 hingga 2.500 meter di atas puncak gunung, jauh melampaui batas aman bagi pesawat terbang. “Keputusan ini diambil demi keselamatan penumpang dan awak pesawat. Kami menunggu laporan resmi dari PVMBG sebelum membuka kembali operasi,” ujar Panjaitan.
Penerbangan yang terdampak berasal dari Wings Air dan Nam Air, dengan rute utama Maumere-Kupang dan Maumere-Labuan Bajo. Jadwal penerbangan IW 1961 (Labuan Bajo–Maumere) dan IW 1960 (Maumere–Labuan Bajo), yang biasa beroperasi setiap Senin, Rabu, dan Jumat, dibatalkan secara total pada hari erupsi.
Meski demikian, Bandara Internasional Komodo di Labuan Bajo tetap berjalan normal. Humas bandara tersebut, Marwah, menegaskan bahwa hanya rute yang langsung terhubung dengan Maumere yang terkena dampak. “Penumpang yang menuju Labuan Bajo dari kota lain tidak terganggu. Masalahnya hanya pada penerbangan antar dua pulau ini,” jelasnya.
Erupsi terakhir terjadi pada malam hari, memperpanjang ketidakpastian. Otoritas vulkanologi masih memantau aktivitas seismik dan emisi gas, sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersiap mengoordinasikan evakuasi jika diperlukan. Warga di sekitar kaki gunung diminta tetap waspada dan menghindari zona radius 3 kilometer dari puncak.
Gunung Lewotobi, yang pernah meletus besar pada 2020 dan menyebabkan korban jiwa, kini kembali menjadi perhatian utama. PVMBG telah menaikkan statusnya ke Level II (Waspada) sejak awal Juni, namun erupsi beruntun ini menandai peningkatan signifikan dalam intensitas aktivitas.
Pemerintah daerah setempat, bersama BPBD Flores Timur, telah mendirikan posko tanggap darurat dan mendistribusikan masker ke sejumlah desa terdampak. Sementara itu, sejumlah sekolah di sekitar Maumere diliburkan sementara untuk menghindari paparan abu vulkanik.
Kepala PVMBG, dalam pernyataan tertulis, menegaskan bahwa pola erupsi saat ini masih tergolong eksplusif—bukan letusan eksplosif besar—namun frekuensi yang tinggi menunjukkan tekanan magma yang terus meningkat. “Kami memantau secara real-time. Jika terjadi perubahan signifikan, kami akan segera naikkan status ke Level III,” ujar dia.
Pembukaan kembali Bandara Maumere akan bergantung pada hasil pemantauan udara dan kondisi visibilitas. Penerbangan kemungkinan baru bisa dilanjutkan jika abu vulkanik benar-benar telah mengendap dan tidak lagi mengancam mesin pesawat. Masyarakat diimbau tetap mengikuti informasi resmi dari BPBD dan PVMBG, serta menghindari aktivitas di zona bahaya.

















