Sumbawanews.com,- Proses pendaftaran Sekolah Manusia Unggul (Maung) di Jawa Barat memicu keresahan luas setelah sejumlah orang tua mendapati skor anak mereka turun drastis setelah verifikasi selesai. Sophie, salah satu orang tua yang anaknya terdaftar lewat jalur prestasi nonakademik sebagai Ketua OSIS, mengaku syok saat melihat nilai akhir anaknya anjlok dari 370,40 menjadi 319,40 dalam waktu kurang dari empat jam. Pada 2 Juni, anaknya masih berada di posisi terakhir kuota 64 siswa—seolah aman masuk. Tapi pada 4 Juni pukul 07.00 WIB, skornya tiba-tiba menyusut 51 poin tanpa penjelasan resmi.
Ketidakjelasan ini memicu aksi protes. Sophie dan tiga orang tua lain bergerak ke kediaman Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, di Subang, pada 5 Juni, demi mengadukan dugaan ketidakadilan. Mereka menuntut kejelasan: mengapa skor yang sebelumnya diakui oleh sistem tiba-tiba direvisi ke bawah, padahal seluruh dokumen sertifikat prestasi telah diverifikasi dan dinyatakan valid?
Menurut aturan SPMB Maung yang tertuang dalam Keputusan Gubernur Nomor 27274/HK.02.03/SEKRE, skor prestasi nonakademik untuk Ketua OSIS di tingkat provinsi ditetapkan 305 poin. Namun, anak Sophie—yang memegang sertifikat Ketua OSIS tingkat sekolah—diklasifikasikan di bawah kategori “di luar tingkat kementerian” dengan skor 220. Perubahan ini, menurut dinas, bukan pemotongan sepihak, melainkan “pemutakhiran data riil” untuk menyesuaikan dengan regulasi yang ketat.
Dinas Pendidikan Jawa Barat membantah adanya manipulasi. Dalam keterangan resmi pada 5 Juni, mereka menyatakan bahwa sistem SPMB Maung mendeteksi ketidaksesuaian input awal, sehingga dilakukan koreksi teknis untuk memastikan semua pendaftar dinilai berdasarkan aturan yang sama. Kasus serupa juga ditemukan pada pendaftar prestasi Taekwondo dan Pramuka Garuda, yang skornya mengalami penyesuaian serupa setelah verifikasi ulang.
Namun, bagi para orang tua, perbedaan antara “koreksi teknis” dan “manipulasi sistem” sulit dibedakan. Mereka menilai, perubahan skor terjadi setelah pendaftar merasa aman—bahkan setelah sistem menampilkan peringkat sementara yang menjanjikan. “Kalau memang ada kesalahan input, kenapa tidak diperbaiki sebelum pengumuman sementara? Kenapa baru diubah saat kami sudah yakin anak kami masuk?” tanya Sophie.
Kepala sekolah dan dewan guru Sekolah Maung akan menetapkan kelulusan final dalam rapat tertutup pada 8 Juni. Hingga berita ini diturunkan, Gubernur Dedi Mulyadi belum memberikan tanggapan resmi atas keluhan yang kian menggema di media sosial dan ruang-ruang pertemuan orang tua siswa.
Kontroversi ini bukan sekadar soal angka. Ia menyentuh kepercayaan publik terhadap sistem seleksi berbasis prestasi—yang sejak awal digadang-gadang sebagai jalan keluar dari ketimpangan pendidikan. Jika sistem yang dijanjikan sebagai “unggul” justru terlihat rapuh dan tidak transparan, maka pertanyaan besar pun muncul: siapa yang sebenarnya diuntungkan oleh Sekolah Maung?

















