Sumbawanews.com,- Warga Jakarta Selatan membanjiri Jalan Rasuna Said pada Minggu pagi, menyambut hangat kembalinya Car Free Day (CFD) setelah jeda evaluasi beberapa pekan. Antusiasme tak hanya terlihat dari ribuan orang yang berlari, bersepeda, atau senam massal, tapi juga dari seruan kuat agar kegiatan ini tidak lagi bersifat sementara—melainkan menjadi rutinitas mingguan.
Hendri, warga Karet Kuningan, mengaku senang CFD kembali hadir di kawasan yang dekat rumahnya. “Selama ini saya cuma bisa ke Bundaran HI, tapi jauh. Sekarang tinggal jalan kaki lima menit, bisa olahraga sekaligus nikmati udara bersih,” katanya sambil mencoba egrang di tengah kerumunan. Baginya, CFD bukan sekadar aktivitas fisik, tapi ruang rekreasi keluarga yang langka di tengah hutan beton dan polusi udara yang tak kunjung reda.
Senada dengan Hendri, Udin, warga sekitar Kuningan, menyebut CFD Rasuna Said sebagai “nafas baru” akhir pekan. “Di sini ada hiburan, ada gerak badan, ada interaksi sosial. Di kota macam ini, momen kayak gini harus dipertahankan,” ujarnya, sambil menunjuk kelompok anak-anak yang bermain permainan tradisional di bawah pohon rindang.
Ryan, yang biasa jogging di GBK, mengaku senang punya pilihan alternatif. “Kalau tiap minggu cuma GBK, bosan. Sekarang bisa muter dari Kedubes Malaysia ke Setiabudi—lebih variatif, lebih sehat,” katanya. Namun, ia menyoroti kekurangan fasilitas: “Toilet umumnya nggak ada. Kalau kebelet, ya harus ngetap ke LRT. Ini harus jadi prioritas.”
Pemandangan serupa terlihat di sepanjang koridor Rasuna Said. Kelompok ibu-ibu bergerak lincah dalam senam zumba, pasangan tua berjalan santai sambil memegang tangan, hingga remaja berlomba sepeda hias. Tidak hanya warga lokal, sejumlah turis asing pun terlihat asyik berfoto di sepanjang jalur yang kini berubah jadi taman kota sementara.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Pramono, sebelumnya menyebut CFD Rasuna Said mulai menjadi “landmark baru Jakarta”—bukan hanya karena jumlah peserta yang melampaui ekspektasi, tapi juga karena keberagaman aktivitas yang muncul secara alami. “Ini bukan sekadar mengurangi kemacetan. Ini tentang membangun kembali ruang publik yang manusiawi,” ujarnya.
Kepala Bidang Lingkungan Hidup DKI, yang turut hadir, mengaku pihaknya sedang mengevaluasi skema operasional, termasuk penambahan toilet, tempat sampah terpisah, dan shelter untuk penjual makanan sehat. “Kami mendengar suara warga. Jika respons tetap positif, tidak menutup kemungkinan CFD ini dijadikan program tetap setiap Minggu,” ujarnya.
Di tengah tuntutan urbanisasi yang semakin padat, CFD Rasuna Said bukan lagi sekadar kebijakan transportasi—tapi simbol kebangkitan ruang publik yang mengutamakan kesehatan, kebersamaan, dan kenyamanan warga. Dan dari ribuan langkah kaki yang menghiasi aspal pada pagi itu, satu pesan jelas terdengar: jangan biarkan ini berhenti sekali lagi.

















