Sumbawanews.com,- Amuntai — Bupati Hulu Sungai Utara, Sahrujani, menyerahkan 159 unit jukung kepada masyarakat pesisir di Desa Sungai Kuini, Kecamatan Sungai Pandan, sebagai bentuk bantuan sosial usaha ekonomi produktif. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat ketahanan ekonomi komunitas yang bergantung pada sungai dan perairan lokal di Kalimantan Selatan.
Dalam sambutannya di Amuntai, Kamis (12/6/2026), Sahrujani menegaskan bahwa jukung bukan sekadar alat transportasi, melainkan sarana vital bagi mata pencaharian warga—mulai dari menangkap ikan, berdagang keliling, hingga mengangkut hasil pertanian dan perikanan. “Ini adalah investasi pada kehidupan sehari-hari masyarakat perairan. Dengan jukung yang layak, produktivitas mereka meningkat, dan ekonomi kerakyatan pun bergerak,” ujarnya.
Tak hanya menyalurkan bantuan, pemerintah daerah juga memastikan seluruh jukung diperoleh dari perajin lokal di Hulu Sungai Utara. Sahrujani menyebut hal ini sebagai upaya sekaligus mendukung industri rumah tangga dan melestarikan kearifan budaya Banjar. “Alhamdulillah, semua perahu ini dibuat oleh tangan-tangan lokal. Kami bangga bisa membangkitkan ekonomi kreatif sekaligus menjaga warisan tradisional,” katanya.
Sebelum penyerahan, Bupati juga meninjau proses pembuatan jukung di Desa Datu Kuning, memastikan kualitas dan ketahanan perahu sesuai standar keamanan navigasi. Ia menekankan bahwa setiap jukung dilengkapi perlengkapan keselamatan dasar, termasuk pelampung dan alat penerangan, untuk menjamin keamanan para nelayan dan pedagang sungai.
Di wilayah yang berjaringan sungai besar seperti HSU, jukung telah menjadi simbol kehidupan sejak generasi lalu. Kini, dengan dukungan pemerintah, alat tradisional ini kembali menjadi tulang punggung ekonomi berkelanjutan. Dengan 159 unit yang disalurkan, lebih dari 700 jiwa—termasuk keluarga nelayan dan pedagang—diperkirakan langsung terdampak positif.
Pemerintah Kabupaten HSU berencana memperluas program serupa ke desa-desa lain yang terisolasi darat, dengan pendekatan berbasis kebutuhan lokal dan partisipasi masyarakat. “Kami tidak ingin hanya memberi perahu, tapi juga membangun sistem yang membuat mereka mandiri,” pungkas Sahrujani.

















