Home Berita Nasional Arus Peti Kemas Internasional Melonjak 11 Persen

Arus Peti Kemas Internasional Melonjak 11 Persen

Sumbawanews.com,- Hingga April 2026, volume peti kemas internasional yang ditangani PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) mencapai 6,42 juta TEUs, tumbuh 11 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh lonjakan ekspor sebesar 10 persen dan impor yang melonjak 12 persen, sementara arus domestik tetap stabil dengan pertumbuhan 4 persen. Angka ini menjadi indikator kuat bahwa aktivitas logistik nasional tetap berdenyut kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Pelabuhan-pelabuhan utama seperti Tanjung Priok, Tanjung Perak, dan Tanjung Emas menjadi tulang punggung rantai pasok, menunjukkan kinerja bongkar muat yang konsisten. Kenaikan arus ekspor terutama dipicu oleh komoditas bernilai tambah: lemak dan minyak nabati tumbuh 7,95 persen, mesin mekanis 9,26 persen, dan produk kimia yang melonjak 12,27 persen. Di sisi impor, permintaan terhadap barang modal mengalami peningkatan signifikan—mesin elektrik naik 17,91 persen, instrumen optik 20,8 persen, dan produk kimia melonjak hingga 36,31 persen. Ini menandakan bahwa investasi industri dan agenda hilirisasi nasional terus berjalan.

Struktur perdagangan Indonesia yang masih kuat di kawasan intra-Asia menjadi penyangga utama. Tiongkok dan ASEAN menyumbang 46,2 persen dari total ekspor dan 56,5 persen impor, menjadikan kawasan ini sebagai pilar stabilitas perdagangan luar negeri. Ketergantungan pada pasar regional ini justru menjadi keunggulan strategis di tengah gejolak geopolitik di Timur Tengah dan perlambatan ekonomi di sejumlah negara maju.

Tak hanya di pelabuhan barat, distribusi domestik juga menunjukkan pergeseran signifikan ke wilayah timur. Tanjung Priok mencatat pertumbuhan domestik 8 persen, didorong oleh peningkatan pengiriman ke pelabuhan di Papua, Kalimantan, dan Sulawesi. Tanjung Perak tumbuh 2 persen, sementara Makassar melonjak 7 persen, didukung oleh pergerakan komoditas pertanian seperti beras, jagung, dan palawija. Ini menunjukkan bahwa konektivitas logistik nasional mulai merata, bukan lagi terkonsentrasi di Jawa.

Pemerintah merespons tren ini dengan percepatan transformasi infrastruktur pelabuhan. Sebanyak 12 terminal, termasuk Banten dan Tanjung Emas, telah resmi ditetapkan sebagai terminal peti kemas khusus berdasarkan PM 50/2021. Pada periode 2025–2026, pemerintah bersama BUMN kepelabuhanan telah membangun dan merehabilitasi 74 fasilitas pelabuhan di seluruh Indonesia. Upaya ini mencakup pendalaman alur pelayaran, peningkatan kapasitas tambatan, modernisasi alat bongkar muat, serta percepatan digitalisasi layanan.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Muhammad Masyhud, menegaskan bahwa semua langkah ini dirancang untuk memperkuat jaringan hub-and-spoke, khususnya di kawasan timur, sekaligus mengintegrasikan pelabuhan dengan kawasan industri dan zona hilirisasi. “Penguatan infrastruktur ini bukan sekadar memperbesar kapasitas, tapi membangun sistem logistik yang kompetitif, efisien, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Dengan pertumbuhan yang terus berlanjut, Indonesia kini berada di titik krusial: apakah sistem logistiknya mampu menopang laju perdagangan yang semakin dinamis? Jawabannya terletak pada konsistensi investasi, keandalan operasional, dan integrasi digital. Jika terus dipacu, pelabuhan Indonesia tidak hanya menjadi simpul rantai pasok, tapi menjadi mesin pendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkeadilan.

Previous article12 Laporan Dugaan Pelanggaran Etik Terhadap Hery Susanto
Next articleEtiopia Bersiap Hadapi Pemilu Bersejarah Pasca Perang
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik