Home Berita Internasional Venezuela Dilanda Gempa Dahsyat, 32 Tewas dan Ribuan Terjebak di Reruntuhan

Venezuela Dilanda Gempa Dahsyat, 32 Tewas dan Ribuan Terjebak di Reruntuhan

Sumbawanews.com,- Tim penyelamat bekerja tanpa henti di tengah debu dan puing-puing bangunan yang runtuh di Caracas, Venezuela, menyusul dua gempa bumi dahsyat yang mengguncang ibu kota pada Rabu, 24 Juni 2026. Gempa pertama berkekuatan 7,2 skala Richter, diikuti oleh gempa kedua yang lebih kuat—7,5 skala Richter—hanya dalam hitungan detik. Keduanya berasal dari patahan geser dangkal di batas lempeng Karibia dan Amerika Selatan, zona seismik paling aktif di kawasan itu.

Kerusakan massal terjadi di pusat kota. Gedung-gedung bertingkat ambruk seperti kardus, menimbun ratusan orang di dalamnya. Hingga kini, 32 orang dikonfirmasi tewas, dengan jumlah korban diperkirakan terus bertambah. Puluhan tim pencari dan penyelamat, didukung oleh tentara dan relawan lokal, bergerak secara manual di antara struktur yang rapuh, menggunakan alat berat dan anjing pelacak untuk mencari jejak kehidupan di bawah puing.

Bandara Internasional Simón Bolívar ditutup sementara akibat kerusakan parah pada landasan dan fasilitas, memperparah tantangan logistik dalam distribusi bantuan. Jalan-jalan utama terputus, listrik padam, dan komunikasi terganggu di sejumlah distrik, membuat koordinasi respons darurat menjadi semakin rumit.

Pelaksana tugas Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, secara resmi menyatakan keadaan darurat nasional. “Kami menghadapi bencana terburuk dalam sejarah modern kami,” ujarnya dalam pidato darurat. “Setiap menit adalah nyawa yang bisa diselamatkan.”

Menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa kedua terjadi akibat pergerakan horizontal mendadak pada patahan yang sudah lama tertekan—fenomena yang umum di zona subduksi, namun jarang mencapai intensitas sebesar ini di wilayah Venezuela. Gempa ini bukan yang pertama, tapi yang paling mematikan dalam dua dekade terakhir.

Warga berbondong-bondong ke jalan-jalan terbuka, takut kembali ke rumah mereka yang retak dan tak stabil. Anak-anak menangis, orang tua duduk terpaku di samping puing-puing rumah mereka, sementara para dokter lapangan bekerja di bawah tenda darurat, mengobati luka-luka akibat benturan dan patah tulang tanpa pasokan obat yang memadai.

Pemerintah mengaku kesulitan mengakses daerah-daerah terpencil yang terisolasi akibat longsoran dan jembatan putus. Bantuan internasional mulai mengalir, meski belum sampai secara maksimal. Pihak berwenang meminta bantuan alat berat, peralatan pencitraan termal, dan tim pencari khusus dari negara-negara tetangga.

Belum ada laporan korban warga negara Indonesia, menurut Kementerian Luar Negeri RI. Namun, ribuan jiwa lainnya masih hilang—dan waktu terus berjalan. Di tengah keheningan yang dipenuhi suara palu dan gergaji, setiap detik adalah harapan.

Previous articleTiyo Ardianto Tanggapi Tudingan Dekat PDIP: Jangan Asal Cocoklogi
Next articleBlok M Jadi Percontohan Kawasan Rendah Emisi di Jakarta