Sumbawanews.com,- Di tengah hiruk-pikuk konflik yang berkepanjangan di Tepi Barat, Uskup Agung Canterbury, Dame Sarah Mullally, menghadirkan suara moral yang langka: keberanian untuk berdiri di garis depan keadilan. Dalam kunjungan bersejarah ke kota Birzeit pada Ahad lalu, ia menyampaikan komitmen tegas untuk memperjuangkan kemerdekaan dan martabat bangsa Palestina, di hadapan jemaat gereja Anglikan yang bertahan di tengah penjajahan.
Dalam khotbahnya di Gereja St Peter’s, Mullally tidak hanya mengutip firman Tuhan, tetapi juga mengenali penderitaan nyata yang dihadapi warga Palestina setiap hari. “Perlawanan Anda yang penuh keteguhan terlihat ketika para ayah dan ibu harus melewati ratusan pos pemeriksaan demi mengantar anak-anak ke sekolah, atau sekadar mencari nafkah untuk keluarga,” ujarnya, suara tegas namun penuh empati. Ia menekankan bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan warga Palestina—dari beribadah hingga bertahan hidup—adalah bentuk perlawanan spiritual yang mencerminkan iman pada keadilan dan kebebasan.
Mullally, yang memimpin Gereja Inggris sejak 2017, secara terbuka mengakui privilese yang ia nikmati sebagai seorang pemimpin agama dari negara maju: kemampuan bepergian bebas, mengunjungi Yerusalem, atau berkumpul dengan komunitas tetangga tanpa izin militer. “Saya menyadari, kebebasan yang saya miliki adalah sesuatu yang Anda dipinggirkan,” katanya. “Dan saya akan menggunakan seluruh peran saya sebagai Uskup Agung untuk memperjuangkan perdamaian yang Anda dambakan—dan kebebasan yang layak Anda dapatkan.”
Kunjungan ini bukan sekadar simbolis. Ia bertemu langsung dengan Layan Nasir, seorang perempuan Kristen Palestina berusia 26 tahun yang telah tiga kali ditahan oleh otoritas Israel dalam lima tahun terakhir. Mullally menyatakan rasa terima kasih atas keramahan keluarga Layan, sekaligus menegaskan bahwa komunitas Kristen global tidak tinggal diam. “Gereja dipanggil untuk bersukacita bersama yang bersukacita, dan menangis bersama yang menangis. Kami mendukung hak Anda untuk hidup dalam kebebasan dan martabat.”
Kunjungan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap kebijakan pendudukan Israel, yang baru-baru ini mencaplok 115 hektar tanah Palestina untuk memperluas permukiman ilegal. Sementara itu, fasilitas medis di Gaza terus hancur, dan anak-anak menjadi sasaran utama kekerasan. Dalam konteks itulah, pernyataan Mullally menjadi lebih berarti: bukan hanya sebagai pemimpin gereja, tetapi sebagai suara yang berani menentang ketidakadilan dengan kekuatan moral, bukan kekerasan.
Dengan nada yang menggabungkan kebijaksanaan teologis dan kejelasan politik, ia menutup khotbahnya dengan harapan: “Anda tidak dilupakan. Dunia Kristen sedang mendengar. Dan kami akan terus berdiri bersama Anda—sampai kebebasan bukan lagi mimpi, tapi kenyataan.”















