Sumbawanews.com,- Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesepakatan nuklir dengan Iran sebagai kemenangan total bagi AS, menegaskan bahwa kekuatan militer Amerika yang tak tertandingi menjadi fondasi utama keberhasilan diplomasi ini. Dalam pernyataan resminya di Gedung Putih, Trump menekankan bahwa tekanan maksimal yang diberikan selama bertahun-tahun—mulai dari sanksi ekonomi hingga isolasi diplomatis—berbuah hasil nyata: Teheran setuju untuk membatasi program nuklirnya secara signifikan, membuka akses penuh bagi inspektur IAEA, dan menghentikan pengayaan uranium di atas tingkat sipil.
“Ini bukan sekadar kesepakatan. Ini adalah bukti bahwa ketika Amerika berdiri tegak dengan kekuatan, dunia mendengar,” ujar Trump, yang kini kembali menjabat sebagai presiden setelah memenangkan pemilu 2024. Ia menambahkan, kesepakatan ini tidak hanya mengurangi ancaman senjata nuklir di Timur Tengah, tetapi juga mengembalikan kepercayaan sekutu AS terhadap kepemimpinan Washington.
Dokumen resmi yang dirilis bersamaan dengan pernyataan Trump menunjukkan bahwa Iran setuju untuk mengurangi jumlah sentrifuganya hingga 70 persen, menutup fasilitas bawah tanah Natanz untuk pemrosesan uranium, dan menyerahkan seluruh stok uranium yang telah diperkaya ke pihak ketiga di negara netral. Sebagai imbalan, AS akan mencabut sanksi minyak dan perbankan yang selama ini membatasi ekonomi Iran—namun tetap mempertahankan larangan terhadap transaksi senjata dan teknologi militer.
Kesepakatan ini disambut hangat oleh sekutu Eropa, meskipun beberapa pihak mempertanyakan keberlanjutan jangka panjangnya. Menteri Luar Negeri Prancis, dalam pernyataan tertulis, menyebutnya sebagai “langkah penting menuju stabilitas regional,” sementara Israel tetap waspada, menegaskan bahwa “pengawasan harus ketat dan tanpa kompromi.”
Di Teheran, Presiden Ebrahim Raisi menyebut kesepakatan itu sebagai “kemenangan diplomasi atas kekerasan,” dan menjanjikan pembukaan ekonomi yang lebih luas bagi rakyat Iran. Namun, ia menegaskan bahwa Iran tetap menolak pengakuan terhadap hak Israel dan akan terus mempertahankan haknya atas teknologi nuklir untuk tujuan damai.
Analisis dari Institut Strategi Internasional di London menyatakan bahwa kesepakatan ini menandai titik balik dalam kebijakan luar negeri AS pasca-2020, di mana pendekatan “kekuatan sebagai diplomasi” kembali menjadi paradigma utama. “Trump tidak memulai dari nol. Ia membangun kembali struktur tekanan yang pernah ia bangun pada masa jabatan pertamanya, tapi kali ini dengan dukungan lebih luas dari aliansi dan kekuatan militer yang jauh lebih dominan,” kata direktur institut tersebut.
Dengan kesepakatan ini, AS kembali menempatkan dirinya sebagai aktor utama dalam pengendalian senjata nuklir global—sekaligus mengirim pesan tegas kepada negara-negara lain: kekuatan militer yang tak tertandingi adalah kunci untuk memaksa perubahan perilaku, bukan hanya meminta kerja sama.

















