Sumbawanews.com,- Media-media Israel melapuhkan kekecewaan mendalam di kalangan elit politik Tel Aviv menyusul pengumuman nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan ditandatangani pada Jumat mendatang. Laporan dari outlet seperti i24NEWS dan Yedioth Ahronoth menggambarkan kefrustrasian yang kian memuncak, dengan sejumlah pejabat menuduh Washington telah mengorbankan kepentingan sekutu strategisnya demi mengejar kesepakatan dengan Teheran.
Kepemimpinan Israel, terutama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, merasa dikhianati oleh keputusan AS yang memasukkan Lebanon ke dalam lingkup kesepakatan. Ini bukan sekadar masalah teknis—bagi Tel Aviv, keberadaan Hezbollah di selatan Lebanon adalah ancaman eksistensial. Seorang pejabat senior Israel mengungkapkan bahwa ketegangan antara Netanyahu dan Presiden Donald Trump kini telah mencapai titik terendah, bahkan terbuka ke publik. “Kami tidak akan menarik pasukan dari selatan Lebanon, tidak sekarang, tidak nanti,” tegas sumber itu, menekankan bahwa Israel tetap akan mempertahankan kebebasan aksi militer di wilayah itu, meski kesepakatan AS-Iran mengamanatkan sebaliknya.
Lebih dari itu, Yedioth Ahronoth menyerang keras manajemen negosiasi AS, menyebutnya sebagai “kecerobohan strategis” yang melemahkan posisi Israel. Koran itu memperingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada Washington—yang kini tampak lebih fokus pada diplomasi dengan Iran daripada menjamin keamanan Israel—adalah langkah berbahaya dan tidak bertanggung jawab. “Kami bukan sekadar sekutu. Kami adalah perisai pertama yang menahan ekspansi Iran. Tapi sekarang, perisai itu justru dihancurkan dari dalam,” tulis editorial tersebut.
Sementara itu, i24NEWS mengutip analis militer yang memprediksi kesepakatan ini akan berumur pendek. “Ini bukan akhir perang, hanya jeda sementara,” kata seorang sumber. “Iran tidak akan mematuhi kesepakatan ini—seperti yang terjadi pada perjanjian nuklir era Obama. Mereka hanya menunda, bukan menghentikan. Operasi militer untuk menghancurkan program nuklir dan rudal mereka hanyalah soal waktu.”
Dalam laporan terpisah, para pejabat Israel juga mengkhawatirkan bahwa kesepakatan ini akan membatasi kemampuan mereka untuk melakukan serangan preemtif terhadap infrastruktur militer Iran atau sekutunya di Timur Tengah. Dengan AS yang kini berada di bawah tekanan diplomatik Teheran, Tel Aviv merasa kehilangan “kartu hijau” yang selama ini menjadi dasar kebijakan keamanannya.
Dengan latar belakang ketidakpercayaan yang mendalam terhadap niat Iran, dan kekecewaan terhadap kebijakan AS yang dianggap terlalu kompromistis, Israel kini berada di persimpangan: apakah akan tetap bergantung pada sekutu yang semakin tidak dapat diprediksi, atau memilih jalan sendiri—meski dengan risiko isolasi strategis.















