Sumbawanews.com,- Baku tembak meledak di ibu kota Mogadishu, Somalia, pada Rabu (3/6), menyusul pengumuman sepihak Presiden Hassan Sheikh Mohamud untuk memperpanjang masa jabatannya selama satu tahun. Kekerasan yang memicu kekacauan itu berlangsung di distrik Howl Wadaag, di mana warga berlarian panik sementara suara tembakan dan ledakan RPG mengguncang lingkungan sekitar, termasuk dekat kediaman mantan presiden Sharif Sheikh Ahmed.
Masa jabatan Mohamud seharusnya berakhir pada 15 Mei lalu. Namun, ia mengklaim perpanjangan itu diperlukan untuk menyelesaikan transisi sistem pemilu dari model berbasis tetua klan ke sistem demokratis langsung, yang baru saja disahkan parlemen pada Maret 2026. Pernyataan itu langsung memicu amarah oposisi dan para pemimpin daerah yang menilai langkah itu sebagai upaya kudeta konstitusional untuk mempertahankan kekuasaan.
Mantan Perdana Menteri Hassan Ali Khaire, yang menjadi salah satu tokoh oposisi utama, mengatakan pasukan pemerintah menyerangnya menjelang rencana demonstrasi massal pada Kamis (4/6). “Serangan dilancarkan oleh pasukan yang dipimpin presiden yang masa jabatannya sudah berakhir,” tegasnya dalam unggahan media sosial.
Saksi mata melaporkan, bentrokan berlangsung sekitar 15 menit, melibatkan pasukan keamanan Somalia dan kelompok bersenjata oposisi. “Mereka bahkan menggunakan RPG—ledakannya terdengar hingga ke kawasan yang jauh,” kata Saleban Mahad, seorang warga setempat.
Pemerintah Somalia menyalahkan milisi oposisi sebagai dalang kekerasan, dan menuduh Khaire mengorganisir aksi tersebut. Namun, di tengah kekacauan, banyak warga dan analis mempertanyakan legitimasi keputusan presiden di negara yang masih terbelah oleh kekuatan klan dan di sebagian wilayahnya dikuasai oleh kelompok ekstremis Al-Shabaab.
Somalia, yang telah berjuang selama lebih dari tiga dekade untuk membangun pemerintahan stabil, kini kembali terjebak dalam siklus ketidakpastian politik. Meski Mohamud berargumen bahwa perpanjangan jabatan adalah langkah sementara demi stabilitas, oposisi melihatnya sebagai pintu masuk bagi otoritarianisme—mengingat sejarah panjang kudeta dan kekuasaan tak terbatas di negara itu.
Dengan konflik bersenjata belum mereda dan tekanan internasional mulai menggema, Somalia berdiri di tepi jurang: antara reformasi yang diidamkan dan kekuasaan yang tak lagi dipercaya.

















