Sumbawanews.com,- Pemerintah Inggris mendapat dukungan dari sejumlah rabi senior dalam keputusannya melarang impor produk dari permukiman ilegal Israel di Tepi Barat. Larangan ini diumumkan Menteri Luar Negeri Ed Miliband pada 8 September 2026, sebagai respons terhadap kekerasan yang dilakukan pemukim Israel dan untuk melindungi kemungkinan solusi dua negara. Meskipun Kepala Rabi Sir Ephraim Mirvis mengkritik langkah itu sebagai berisiko memperkuat antisemitisme, tokoh-tokoh Yahudi progresif seperti Jonathan Wittenberg, Jeremy Gordon, dan Lev Taylor justru memuji kebijakan itu sebagai tindakan moral yang mendesak. Wittenberg, yang telah mengunjungi kampung-kampung Palestina bersama Miliband, menyebut kekerasan itu sebagai “Chillul Hashem” — penghinaan terhadap nama Tuhan — dan menegaskan bahwa diam berarti menjadi bagian dari ketidakadilan. Survei YouGov pada 9 September 2026 menunjukkan 52 persen warga Inggris mendukung larangan tersebut, sementara Perdana Menteri Andy Burnham mempertahankan keputusan itu dengan menegaskan bahwa Inggris harus berdiri di sisi keadilan melawan ketidakadilan. Langkah ini memicu reaksi keras Israel, termasuk pengumuman penutupan Konsulat Jenderal Inggris di Yerusalem Timur oleh Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar.















