Sumbawanews.com,- Malam hari Minggu (14/6), Ukraina dilanda serangan udara paling intensif dalam beberapa pekan terakhir. Rusia meluncurkan 70 rudal dan 611 drone ke berbagai wilayah strategis di negara itu, termasuk ibu kota Kyiv, mengakibatkan kebakaran besar, kerusakan infrastruktur, dan kepanikan di kalangan warga sipil.
Menurut laporan otoritas Ukraina, serangan yang berlangsung sepanjang malam itu menargetkan pusat energi, bandara, dan fasilitas militer. Di Kyiv, asap hitam membubung tinggi dari lokasi yang terkena dampak, sementara ledakan bergema di seluruh kota. Sebuah katedral berusia 950 tahun di wilayah timur juga dilaporkan terbakar akibat serangan rudal, memicu duka mendalam di kalangan sejarawan dan masyarakat lokal.
Pertahanan udara Ukraina berupaya menggagalkan serangan dengan sistem Patriot dan NASAMS, serta drone penangkal. Meski sebagian besar drone berhasil ditembak jatuh, sejumlah rudal tetap mencapai sasaran. Pihak berwenang menyatakan setidaknya tujuh orang tewas dan puluhan lainnya terluka, dengan ribuan rumah kehilangan listrik dan air akibat kerusakan jaringan utilitas.
Moskow belum memberikan pernyataan resmi tentang serangan ini, tetapi sebelumnya pejabat militer Rusia menyatakan bahwa operasi tersebut merupakan bagian dari “penekanan bertahap terhadap kapasitas pertahanan Ukraina.” Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menegaskan bahwa negaranya “tidak akan menyerah,” dan meminta bantuan senjata canggih dari sekutu Barat.
Serangan ini terjadi di tengah tekanan diplomatik yang meningkat, dengan Uni Eropa dan AS berencana menggelar pertemuan darurat untuk membahas paket bantuan militer baru. Sementara itu, Inggris melaporkan keberhasilannya dalam mengintersepsi kapal tanker Rusia yang diduga mengangkut minyak untuk mendanai perang—langkah yang disambut hangat oleh Kyiv.
Dengan serangan ini, konflik yang telah berlangsung lebih dari dua tahun kembali menunjukkan betapa brutalnya dinamika perang modern—di mana drone murah dan rudal jarak jauh menjadi senjata utama, dan kota-kota sipil menjadi medan pertempuran yang tak kenal kompromi.

















