Sumbawanews.com,- Pada Minggu malam, Rusia melancarkan serangan udara paling masif dalam beberapa pekan terakhir terhadap Ukraina, meluncurkan 70 rudal dan 611 drone ke berbagai titik strategis di seluruh negeri. Serangan yang berlangsung hingga dini hari itu menargetkan pangkalan militer, lapangan terbang, infrastruktur listrik, hingga gedung-gedung hunian di Kyiv, Kharkiv, dan Dnipro—tiga kota yang menjadi poros perlawanan Ukraina.
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan semua serangan berjalan sesuai rencana, tanpa memberikan rincian kerugian yang ditimbulkan. Namun, sumber resmi Ukraina mengonfirmasi empat warga tewas, termasuk lima petugas layanan darurat di Kharkiv yang gugur saat merespons serangan kedua. Tiga lainnya terluka, salah satunya seorang anak kecil.
Di tengah kekacauan, salah satu situs warisan budaya paling bersejarah Ukraina, Biara Pechersk Lavra di Kyiv—yang didirikan pada 1051 dan terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO—mengalami kerusakan parah akibat kebakaran yang dipicu serangan drone. Perdana Menteri Yulia Svyrydenko menyebut insiden itu sebagai “serangan brutal terhadap jiwa dan ingatan bangsa kami,” sekaligus menegaskan, “Ini adalah wajah sejati dari nilai-nilai Ortodoks yang diklaim Rusia.”
Ukraina mengklaim berhasil menembak jatuh 50 rudal dan 582 drone dari total serangan, menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan pertahanan udaranya. Namun, kerusakan infrastruktur tetap meluas: jaringan listrik terputus di beberapa wilayah, dan sejumlah apartemen bertingkat tinggi rusak parah, memaksa ribuan warga mengungsi.
Serangan ini datang di tengah upaya Ukraina yang semakin agresif membalas dengan serangan terhadap fasilitas industri dan energi Rusia, sebagai strategi untuk mempersempit sumber pendanaan perang Moskow. Presiden Volodymyr Zelensky kembali menawarkan pembicaraan langsung dengan Presiden Vladimir Putin, dengan syarat melibatkan perantara dari Amerika Serikat dan Uni Eropa. Namun, kemajuan damai tetap terhambat—para mediator AS kini lebih fokus pada dinamika konflik di Timur Tengah, yang dinilai lebih mendesak secara geopolitik.
Dengan serangan ini, jumlah serangan udara Rusia terhadap Ukraina dalam beberapa pekan terakhir mencapai titik tertinggi sejak awal tahun. Dunia kembali diingatkan: meski perang memasuki tahun keempat, kebrutalan dan skalanya belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

















