Sumbawanews.com,- Jepang mencatat rekor tertinggi kasus pendaki terjebak di pegunungan pada 2025, dengan 3.623 orang mengalami insiden—angka terbanyak sejak pencatatan resmi dimulai pada 1961. Data dari Badan Kepolisian Nasional Jepang (NPA) menunjukkan peningkatan signifikan dibanding tahun sebelumnya, dengan 226 kasus lebih banyak dari 2024. Di antaranya, 3.122 kasus merupakan kecelakaan pendakian, angka terbesar kedua dalam sejarah pencatatan negara itu.
Sebanyak 332 orang dilaporkan tewas atau masih hilang, naik 32 kasus dari tahun sebelumnya. Sementara itu, 1.480 pendaki mengalami luka-luka, meningkat 90 orang. Kenaikan ini tidak hanya terjadi di kalangan pendaki lokal, tetapi justru didorong oleh lonjakan wisatawan asing yang kurang siap menghadapi tantangan alam Jepang. Tahun lalu, 246 wisatawan mancanegara membutuhkan pertolongan—jumlah tertinggi sejak Jepang mulai mencatat kasus semacam ini pada 2018.
Prefektur Nagano menjadi wilayah paling berbahaya, dengan 358 kasus terjebak, diikuti Hokkaido (199 kasus) dan Yamanashi (192 kasus). Medan yang curam, cuaca yang berubah drastis, serta kepercayaan berlebihan terhadap jalur yang dianggap “aman” menjadi penyebab utama. Banyak wisatawan, terutama dari Asia Tenggara dan Eropa, datang tanpa peralatan memadai, tidak memahami peringatan cuaca, atau mengabaikan tanda-tanda bahaya di jalur pendakian.
Otoritas Jepang semakin khawatir. Meski gunung-gunung seperti Fuji, Kita-dake, dan Hotaka-dake menjadi magnet wisata, kesadaran akan keselamatan belum sejalan dengan popularitasnya. Pemerintah kini memperketat sosialisasi: pendaki wajib mendaftar sebelum mendaki, diminta memeriksa prakiraan cuaca, dan disarankan membawa perangkat komunikasi darurat. Di beberapa titik strategis, papan peringatan multibahasa pun diperbanyak—tapi tetap saja, banyak yang melewatinya.
Kasus terbaru menunjukkan pola yang mengkhawatirkan: semakin banyak pendaki asing yang terjebak karena mengandalkan aplikasi peta tanpa pengetahuan dasar navigasi, atau memaksakan diri mendaki meski cuaca buruk demi foto di puncak. Di Hokkaido, seorang turis asal Malaysia harus dievakuasi helikopter setelah mengalami hipotermia di tengah hujan salju mendadak—kejadian serupa terulang di Gunung Fuji dan Gunung Tateyama.
Pihak berwenang menekankan, keindahan alam Jepang bukanlah tantangan yang bisa diabaikan. “Gunung bukan tempat liburan biasa. Ia menghargai persiapan, bukan niat baik,” ujar seorang petugas penyelamat di Nagano. Di tengah gelombang pariwisata global yang terus membanjiri destinasi alam, Jepang kini berada di persimpangan: menjaga aksesibilitas tanpa mengorbankan nyawa. Dan untuk itu, pendaki—baik lokal maupun asing—harus belajar bahwa alam tidak pernah memaafkan kelalaian.

















