Sumbawanews.com,- Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, melakukan pertemuan resmi dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Élysée, Paris, pada Kamis (28/5). Pertemuan ini menjadi lawatan keempat Prabowo ke Eropa sejak menjabat pada Oktober 2024, dan menandai langkah strategis Indonesia dalam memperkuat hubungan bilateral dengan salah satu kekuatan politik dan ekonomi dunia.
Dalam pembicaraan tertutup yang berlangsung hangat, Prabowo menegaskan kembali komitmen Indonesia terhadap solusi dua negara sebagai jalan keluar damai bagi konflik Palestina-Israel. Ia menekankan bahwa kemerdekaan Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan, tetapi juga prasyarat bagi stabilitas global dan keadilan internasional. Macron merespons dengan sikap yang sejalan, menegaskan dukungan Prancis terhadap hak-hak sah rakyat Palestina dalam kerangka hukum internasional.
Selain isu geopolitik, kedua pemimpin membahas implementasi Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA), yang telah disepakati di Brussels pada Juli 2025. Prabowo menekankan pentingnya percepatan ratifikasi dan pelaksanaan kesepakatan ini, khususnya dalam memperluas akses pasar bagi produk unggulan Indonesia seperti kopi, kelapa sawit, dan tekstil. Macron menanggapi dengan komitmen untuk mempercepat proses administratif di tingkat UE, sekaligus membuka ruang dialog lebih dalam terkait keberlanjutan dan keadilan sosial dalam perdagangan.
Dalam kejutan diplomatik yang menarik perhatian, Prabowo mengumumkan kebijakan baru dalam bidang pendidikan: seluruh jenjang pendidikan di Indonesia — dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi — akan mulai memasukkan Bahasa Prancis sebagai mata pelajaran wajib. Langkah ini bertujuan memperdalam ikatan budaya dan mempersiapkan generasi muda Indonesia untuk berkompetisi di panggung global, terutama dalam kerja sama ekonomi dan teknologi dengan negara-negara francophone.
Pertemuan ini ditutup dengan kesepakatan untuk memperkuat kolaborasi di bidang pertahanan, energi terbarukan, dan riset kelautan — sektor-sektor yang dianggap krusial bagi masa depan kedua negara. Keduanya juga sepakat menggelar pertemuan tingkat menteri dalam waktu dekat untuk memantau progres implementasi kesepakatan.
Dengan langkah-langkah ini, Indonesia tidak hanya memperkuat posisinya sebagai aktor kunci di Asia Tenggara, tetapi juga menunjukkan kemampuannya membangun aliansi strategis dengan kekuatan-kekuatan utama dunia — bukan hanya berdasarkan kepentingan ekonomi, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban.















