Sumbawanews.com,- Amerika Serikat mengalami kekurangan stok amunisi strategis akibat operasi militer bersama Israel melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026. Laporan inspektur jenderal Departemen Pertahanan AS yang dirilis 14 September 2026 menyebut operasi bernama Epic Fury telah menghabiskan sekitar US$ 22,3 miliar untuk amunisi dalam periode empat bulan, menyebabkan penipisan persediaan dan mengungkap keterbatasan industri pertahanan dalam mempercepat produksi ulang.
Operasi Epic Fury, yang bertujuan menghancurkan kemampuan militer Iran, menewaskan tujuh personel AS dalam pertempuran dan melukai 417 lainnya. Selain itu, empat jet tempur F-15 hancur, satu F-35 rusak, tujuh pesawat tanker KC-135 mengalami kerusakan, dan hingga 30 drone MQ-9 Reaper hilang. Pusat logistik Angkatan Laut AS di Bahrain menjadi sasaran serangan drone dan rudal balistik Iran, sementara ratusan fasilitas militer AS di Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, Oman, dan Yordania mengalami kerusakan atau kehancuran.
Pentagon berupaya mempercepat proses pengadaan, menyederhanakan produksi, dan menambah cadangan bahan baku, namun peningkatan kapasitas produksi diperkirakan membutuhkan waktu lama. Kondisi ini memicu kekhawatiran di Ukraina dan Taiwan, yang bergantung pada pasokan senjata AS untuk menangkal ancaman dari Rusia dan China.
Presiden Donald Trump berulang kali membantah adanya kekurangan amunisi, menyatakan AS memproduksi “lebih banyak senjata canggih dan unggulan daripada kapan pun dalam sejarah.” Ia menulis di Truth Social bahwa persediaan senjata AS “nyaris tanpa batas.” Namun, laporan Pentagon mengonfirmasi bahwa AS hampir menghabiskan 80 persen stok rudal pencegat THAAD, dan serangan besar-besaran—seperti 1.000 sasaran dalam 24 jam pertama perang—telah berhenti dilancarkan dalam beberapa bulan terakhir.















