Sumbawanews.com,- Polisi Inggris mendapat kecaman luas setelah merekam aksi memalukan: memborgol seorang pelajar berusia 18 tahun yang terbaring sekarat akibat luka tusuk, sementara ia masih meminta tolong.
Korban, Henry Nowak, ditemukan tergeletak di jalan Southampton pada Desember 2025, dengan luka serius di dada. Dalam rekaman kamera tubuh petugas, ia berbisik, “Saya ditusuk,” dan “Saya tidak bisa bernapas.” Jawaban seorang polisi: “Saya rasa tidak begitu, kawan.” Sementara itu, di sisi lain, pelaku penusukan, Vickrum Digwa, seorang pria Sikh, justru berbohong kepada petugas dengan menuduh Nowak melakukan serangan rasis — sebuah klaim yang kemudian terbukti palsu.
Digwa akhirnya dihukum penjara seumur hidup pada Senin, 1 Juni 2026, setelah terbukti bersalah atas pembunuhan dan pembohongan publik. Tapi hukuman bagi pelaku tak mampu meredam amarah publik terhadap aparat yang gagal memberi pertolongan—bahkan justru memasang belenggu pada tubuh korban yang nyaris tak bernyawa.
Rekaman itu beredar luas di media sosial, memicu protes di berbagai kota, termasuk di luar kantor kepolisian Hampshire. Masyarakat menuntut reformasi mendalam dalam pelatihan respons darurat polisi, serta akuntabilitas atas kegagalan etika dasar: menyelamatkan nyawa sebelum menegakkan prosedur.
Kasus ini menjadi simbol perdebatan nasional tentang bias rasial, kegagalan sistem, dan bagaimana kekuasaan bisa salah arah bahkan di tengah momen paling genting. Pihak kepolisian telah membuka penyelidikan internal, namun banyak yang mempertanyakan: apakah ini hanya satu kegagalan, atau gejala dari sistem yang sudah rusak?
Keluarga Nowak, yang masih berduka, menyerukan agar insiden ini tidak menjadi sekadar berita yang hilang ditelan waktu. “Dia bukan sekadar korban kekerasan. Dia adalah korban dari kegagalan kita semua,” kata seorang kerabat dalam pernyataan resmi.















