Sumbawanews.com,- Studi terbaru dari Climate Central mengungkap bahwa perubahan iklim berpotensi mengganggu kelancaran Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat. Dari 104 pertandingan yang dianalisis, 97 di antaranya berisiko terjadi di suhu di atas 28 derajat Celsius—ambang batas yang diketahui menurunkan performa atlet, memperlambat pemulihan, dan mengurangi intensitas laga.
Analisis ini membandingkan kondisi iklim saat ini dengan skenario tanpa pemanasan global. Hasilnya mengejutkan: peluang suhu ekstrem meningkat drastis akibat perubahan iklim. Di Dallas, Texas, saat Jepang menghadapi Belanda, kemungkinan suhu melebihi ambang batas mencapai 95 persen. Di Monterrey, Meksiko, saat Jepang bertemu Tunisia, risikonya 79 persen, dan naik menjadi 98 persen saat melawan Swedia di kota yang sama.
Laga paling rentan terjadi di Guadalajara, Meksiko, pada 26 Juni, ketika Uruguay bertemu Spanyol. Perubahan iklim meningkatkan peluang suhu berbahaya sebesar 37 poin persentase, dari 33 persen menjadi 70 persen. “Bermain di atas 28 derajat Celsius bukan sekadar soal kenyamanan—ini mengubah taktik, tempo, dan kualitas sepak bola secara fundamental,” kata Mike Tipton, profesor dari University of Portsmouth yang terlibat dalam penelitian.
Pemain internasional pun menyuarakan keprihatinan. Morten Thorsby dari tim nasional Norwegia menilai, pemanasan global bukan hanya ancaman kesehatan, tetapi juga mengubah esensi permainan. “Ketika sprint menjadi lebih pendek, pemulihan lebih lama, dan intensitas menurun, sepak bola kehilangan salah satu jantungnya,” ujarnya.
Turnamen yang dijadwalkan berlangsung dari 11 Juni hingga 19 Juli 2026 ini akan menjadi Piala Dunia pertama yang diselenggarakan di tiga negara sekaligus. Namun, panas yang semakin ekstrem menimbulkan pertanyaan serius: apakah stadion-stadion besar dan sistem pendingin yang ada cukup untuk melindungi para pemain dan penonton? FIFA dan pemerintah tuan rumah kini dihadapkan pada tantangan tak hanya teknis, tapi juga moral—mempertahankan sportivitas olahraga di tengah krisis iklim yang tak bisa diabaikan.
Dengan data ilmiah yang semakin jelas, tekanan untuk mengambil langkah adaptif—mulai dari penjadwalan ulang laga hingga investasi infrastruktur pendingin—kini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Piala Dunia 2026 mungkin menjadi ujian pertama bagi sepak bola global untuk membuktikan bahwa ia bisa bertahan, bahkan ketika bumi sedang berubah.

















