Sumbawanews.com,- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim Iran pernah berupaya membunuh salah satu putranya, meski tidak memberikan rincian waktu, tempat, atau metode serangan tersebut. Pernyataan itu disampaikan Netanyahu dalam wawancara dengan Channel 14, media konservatif Israel, pada Senin, 24 Agustus 2026, saat koalisi politiknya tertinggal dalam jajak pendapat menjelang pemilu Oktober. Ia mengaitkan klaim ini dengan kebutuhan perlindungan bagi Gadi Eisenkot, mantan kepala militer yang menjadi pesaingnya, dengan menegaskan bahwa tanpa pengamanan ketat, “orang-orang Iran akan berhasil.”
Netanyahu memiliki dua putra dan seorang putri. Kedua putranya, termasuk putra sulung Yair yang berusia 35 tahun dan tinggal di Miami sejak awal 2024, serta istrinya, telah mendapat perpanjangan perlindungan pribadi dari otoritas Israel pada Juli. Ia menekankan bahwa pengawalan bagi pejabat penting bukan kemewahan, melainkan kebutuhan mendesak dalam konteks ancaman dari Iran.
Klaim ini muncul di tengah eskalasi ketegangan pasca serangan gabungan AS dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, beserta empat anggota keluarganya, termasuk putrinya Boshra dan cucu perempuannya Zahra yang berusia 14 bulan. Satu pekan setelah kematian Khamenei, putranya Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai pemimpin baru Iran. Dalam pesan yang dirilis saat upacara pemakaman, Mojtaba berjanji akan “membalas darah” ayahnya.















