Home Berita Internasional Netanyahu Igaukan Perang, AS-Iran Sudah Damai

Netanyahu Igaukan Perang, AS-Iran Sudah Damai

Sumbawanews.com,- Meski Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan damai yang menjanjikan penghentian semua konflik bersenjata, termasuk di Lebanon, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tetap bersikeras melanjutkan operasi militer di wilayah itu. Dalam pernyataan resminya pada Senin (15/6), Netanyahu menegaskan bahwa pasukan Israel tidak akan menarik diri dari zona penyangga keamanan di Lebanon selama ancaman dari kelompok Hizbullah—yang didukung Iran—masih ada.

“Israel harus terus berjaga, tetap kuat, dan bertekad membela diri sekuat mungkin,” ujar Netanyahu, mengutip semangat yang sama yang ia sampaikan sejak awal konflik meletus pasca-serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Ia menyatakan bahwa meski hampir seluruh teroris yang terlibat dalam serangan itu telah dihabisi, “masih ada satu lagi yang tersisa”—sebuah metafora yang ia gunakan untuk menggambarkan kelompok bersenjata yang ia anggap tetap mengancam perbatasan utara Israel.

Netanyahu menekankan bahwa keamanan nasional Israel tidak bisa diserahkan pada kesepakatan diplomatik yang tidak melibatkan negaranya. Ia menolak mentah-mentah klaim bahwa kesepakatan AS-Iran, yang diumumkan Presiden Donald Trump pada Minggu (14/6), dapat menghentikan operasi militer Israel. “Kami tidak terikat oleh perjanjian yang tidak kami buat,” tegasnya, sekaligus menegaskan bahwa Israel tetap akan bertindak sendiri jika diperlukan.

Pernyataan itu bertentangan dengan komitmen AS yang disampaikan melalui Trump dan Wakil Presiden JD Vance, yang menyatakan bahwa kesepakatan itu mencakup penghentian total permusuhan di semua front—termasuk Lebanon—serta pencabutan blokade maritim AS terhadap Iran. Bahkan, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyebut kesepakatan ini sebagai “titik balik strategis” yang mengakhiri siklus kekerasan regional.

Namun, Netanyahu tidak menggoyahkan posisinya. Ia justru memanfaatkan momen ini untuk membangkitkan narasi keamanan nasional. Ia menyoroti serangan Israel terhadap infrastruktur nuklir dan rudal Iran beberapa bulan lalu, yang menurutnya telah menghancurkan “ratusan miliar hingga mendekati satu triliun dolar” aset militer dan ekonomi Teheran. “Kita telah menggagalkan rencana pemusnahan. Kita telah menghancurkan ilmuwan, pabrik, dan jaringan logistiknya,” ujarnya, seolah mengingatkan sekutu-sekutunya bahwa Israel adalah penjaga pertama keamanan regional.

Ia juga menyindir ketidakselarasan kebijakan Trump dengannya, namun dengan nada yang tetap menghormati. “Kami tidak selalu sepakat, tapi kepentingan Israel harus dijaga dengan kebijaksanaan—bukan dengan harapan,” katanya, menegaskan bahwa Israel tidak akan pernah mengandalkan janji diplomatik untuk menjamin kelangsungan hidupnya.

Kesepakatan AS-Iran, yang akan ditandatangani secara resmi di Swiss pada 19 Juni mendatang, hingga kini masih belum dirinci secara publik. Namun, sumber diplomatik mengindikasikan bahwa kesepakatan itu mencakup pengawasan ketat terhadap program nuklir Iran, pembukaan kembali jalur perdagangan, dan penghentian dukungan militer terhadap kelompok bersenjata di Timur Tengah.

Sementara itu, sejumlah menteri Israel secara terbuka menyatakan bahwa negaranya tidak akan menghentikan operasi militer di Lebanon, terlepas dari tekanan internasional. Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, mengatakan bahwa “keamanan perbatasan tidak bisa ditawar-tawar dengan diplomasi yang tidak mempertimbangkan realitas di lapangan.”

Dengan demikian, meski dunia berharap pada perdamaian, Israel kini berdiri di garis depan—menolak menyerah pada apa yang ia anggap sebagai ilusi keamanan. Dan di tengah keheningan diplomatik, suara Netanyahu tetap menggema: tidak ada perdamaian tanpa kehancuran total ancaman.

Previous articleSelat Hormuz Kembali Terbuka Total Setelah Kesepakatan AS-Iran
Next articleBelum Ada Korban Jiwa Usai Gempa 6,7 Magnitudo di Palu
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.