Home Berita Internasional Myanmar Terperosok dalam Krisis Ekonomi, Inflasi Tembus 25 Persen

Myanmar Terperosok dalam Krisis Ekonomi, Inflasi Tembus 25 Persen

Sumbawanews.com,- Inflasi di Myanmar melonjak hingga 24,6 persen pada April 2026, memperdalam penderitaan rakyat yang sudah bertahun-tahun terjebak dalam kekacauan politik dan ekonomi. Angka ini, yang dirilis Bank Dunia dalam laporan Myanmar Economic Monitor, menjadi yang tertinggi dalam sejarah modern negara itu—melampaui angka 21,1 persen pada Maret lalu dan menandai kemerosotan ekonomi yang tak terbendung sejak kudeta militer pada Februari 2021.

Lonjakan harga yang drastis dipicu oleh krisis energi global yang memperburuk kerentanan struktural Myanmar. Negara ini mengimpor sekitar 90 persen kebutuhan bahan bakarnya, menjadikannya sangat rentan terhadap gangguan pasokan internasional. Penutupan Selat Hormuz akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran sejak Februari lalu memutus salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia, sehingga harga bahan bakar dalam negeri melambung tak terkendali.

Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Myanmar untuk tahun fiskal 2026-2027 dari 3 persen menjadi hanya 2 persen. Meski ada tanda-tanda stabilisasi, ekonomi negara itu tetap berada di titik terendah, dengan sektor industri dan perdagangan lumpuh akibat ketidakstabilan politik dan perang saudara yang berkepanjangan.

“Guncangan harga energi menghidupkan kembali tekanan inflasi yang seharusnya sudah mereda,” ujar Kemoh Mansaray, ekonom senior Bank Dunia. “Daya beli rumah tangga runtuh, sementara jutaan keluarga sudah hidup di ambang kemiskinan.”

Data menunjukkan, tingkat kemiskinan di Myanmar mencapai 29,9 persen pada 2025—naik tajam dari sebelum kudeta. Di Yangon, seorang ayah berusia 28 tahun mengaku tak mampu membeli makanan cukup untuk tiga anaknya yang masih sekolah. “Kami memilih antara makan atau sekolah. Kami tidak punya pilihan lain,” katanya, meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan.

Di pasar tradisional, seorang pemilik toko perempuan berusia 45 tahun menggambarkan kehidupan sehari-hari sebagai perjuangan bertahan. “Pendapatan kami tak lagi seimbang dengan pengeluaran. Kami hanya menunggu esok hari tanpa tahu apakah akan cukup untuk makan besok,” ujarnya. Harga barang, katanya, terus naik—tanpa pernah turun lagi.

Krisis ini bukan sekadar masalah harga, tapi runtuhnya sistem sosial. Pendidikan, kesehatan, dan keamanan pangan—tiga pilar dasar kehidupan—kini menjadi kemewahan yang tak terjangkau bagi sebagian besar rakyat Myanmar. Sementara dunia sibuk dengan konflik di wilayah lain, jutaan warga Myanmar terus terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang tak kunjung usai.

Previous articleIsrael Tegaskan Tak Akan Izinkan Iran Miliki Senjata Nuklir
Next articleRatusan Triliun Dana Pendidikan Mengendap
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.