Sumbawanews.com,- Tegangan diplomatik memanas antara Israel dan Turki setelah Menteri Dalam Negeri Turki, Mustafa Çiftçi, menyatakan niat negaranya untuk “membebaskan Yerusalem” dari pendudukan Israel. Pernyataan itu, yang disampaikan dalam konteks religius dan historis dengan menyebutkan pembebasan Damaskus dan Aleppo sebagai analogi, langsung memicu reaksi keras dari Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz.
Dalam respons yang langka dan tajam, Katz merespons lewat platform X (sebelumnya Twitter) dengan menggunakan bahasa Turki—sebuah langkah yang sengaja dirancang untuk menunjukkan pemahaman mendalam terhadap narasi Ankara. “Yerusalem bukanlah Konstantinopel, dan Negara Israel bukanlah Kekaisaran Salib yang telah runtuh,” tulis Katz, menolak tegas analogi yang dibangun Çiftçi antara Yerusalem dan ibu kota Ottoman yang jatuh pada 1922.
Katz tidak hanya menolak klaim Turki, tetapi juga menyerang ambisi neo-Ottoman yang dikatakannya masih hidup dalam pikiran Presiden Recep Tayyip Erdoğan dan sejumlah pejabatnya. “Kekaisaran Ottoman yang Anda dan Erdogan impikan telah runtuh—dan tidak akan pernah kembali,” tegasnya, menekankan bahwa Israel bukanlah objek imperialisme sejarah, melainkan negara berdaulat yang telah mempertahankan Yerusalem sebagai ibu kota abadi bangsa Yahudi selama tiga ribu tahun.
Pernyataan Çiftçi, yang awalnya disampaikan saat ia masih menjabat sebagai gubernur Corum dan baru kembali viral di media sosial Turki, dianggap Israel sebagai bagian dari kampanye politik domestik yang memanfaatkan isu Palestina untuk memperkuat legitimasi kepemimpinan Erdoğan di mata dunia Muslim. Sementara itu, Israel menegaskan bahwa Yerusalem Timur, yang diduduki sejak Perang Enam Hari 1967, adalah bagian tak terpisahkan dari negaranya—meskipun secara internasional masih menjadi subjek sengketa, dengan Palestina mengklaimnya sebagai ibu kota masa depan.
Turki, yang sejak dekade terakhir memainkan peran sebagai pelindung aktif Palestina dan pengkritik tajam kebijakan Israel, memang kerap menggunakan retorika religius dan sejarah untuk memperkuat posisinya di kancah internasional. Namun, respons Israel kali ini menunjukkan bahwa Tel Aviv tidak lagi hanya memandang Ankara sebagai lawan politik, tetapi sebagai ancaman ideologis yang berpotensi menggoyang fondasi legitimasi historisnya atas Yerusalem.
Dalam konteks geopolitik Timur Tengah yang semakin rapuh, pernyataan kedua negara bukan sekadar perdebatan retoris—melainkan cerminan dari dua narasi besar yang saling bertabrakan: satu yang berakar pada identitas nasional Yahudi yang berusia ribuan tahun, dan satu lagi yang berambisi membangkitkan kembali simbol-simbol kekaisaran Islam masa lalu. Dan di tengahnya, Yerusalem tetap menjadi kota yang tak hanya dihuni oleh umat beragama, tetapi juga menjadi medan pertarungan memori, sejarah, dan kekuasaan.

















