Home Berita Internasional Israel Dihentikan Pidato di ILO oleh Protes Palestina

Israel Dihentikan Pidato di ILO oleh Protes Palestina

Sumbawanews.com,- Diplomat Israel Waleed Gadban tak mampu menyelesaikan pidatonya di Konferensi Buruh Internasional (ILO) di Jenewa, Selasa, 3 Juni 2026, setelah protes massal dari peserta konferensi menghentikan setiap upayanya untuk berbicara. Dalam suasana tegang yang memekakkan telinga, para delegasi dari lebih dari 180 negara anggota ILO menggedor meja, menyerukan slogan “Bebaskan Palestina,” dan menampilkan bendera Palestina—sebuah aksi yang, meski sempat diingatkan petugas keamanan, tetap berlangsung tanpa reda.

Gadban, yang dijadwalkan menyampaikan pandangan Israel terkait isu ketenagakerjaan di wilayah konflik, hanya mampu membaca beberapa kalimat sebelum suara protes menggema dari seluruh penjuru aula. Menteri Tenaga Kerja Turki Vedat Isikhan, bersama perwakilan serikat buruh dari berbagai negara, menjadi salah satu pemimpin aksi ini. Beberapa peserta bahkan mengenakan syal bertuliskan “Free Palestine,” sementara yang lain berdiri diam, menatap tajam ke arah podium—tanda kekecewaan yang tak perlu dikatakan.

Presiden konferensi, Juan Castillo, berulang kali menyerukan ketertiban, tetapi upayanya tak mampu meredam gelombang emosi yang telah lama menumpuk. Dalam konteks ILO yang seharusnya menjadi forum netral untuk membahas hak-hak pekerja global, aksi ini menjadi refleksi nyata bahwa konflik di Timur Tengah tak lagi bisa dipisahkan dari dinamika internasional—bahkan di ruang yang sejatinya didedikasikan untuk keadilan sosial dan kemanusiaan.

Konferensi yang berlangsung hingga 12 Juni itu mempertemukan pemerintah, pengusaha, dan serikat pekerja dari 187 negara. Namun, dalam sesi yang seharusnya membahas upah minimum, perlindungan pekerja migran, dan kesetaraan gender, topik Palestina justru menjadi pusat perhatian—mengingatkan dunia bahwa diplomasi bukan hanya soal kebijakan, tapi juga hati nurani.

Gadban akhirnya menyerah, meninggalkan podium tanpa menyelesaikan pidatonya. Tak ada sorak, tak ada tepuk tangan—hanya hening yang berat, seolah seluruh aula menahan napas, menyaksikan bagaimana satu suara yang seharusnya didengar, justru ditolak oleh suara-suara yang lebih besar: suara keadilan.

Previous articleKejagung Bongkar Jaringan SPPG Korupsi MBG
Next articleNanoleaf Bergabung dengan SwitchBot untuk Bangun Ekosistem Rumah Berbasis AI
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik