Home Berita Internasional Israel Ambil Alih Kastil Beaufort, Sebut “Tembok Ketakutan” Runtuh

Israel Ambil Alih Kastil Beaufort, Sebut “Tembok Ketakutan” Runtuh

Sumbawanews.com,- Israel resmi menduduki Kastil Beaufort, benteng bersejarah di Lebanon selatan, dalam operasi militer terbaru yang ditujukan untuk melemahkan Hizbullah. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut perebutan lokasi strategis ini sebagai momen penentu—sebuah “perubahan dramatis” dalam strategi militer Israel yang kini beroperasi secara serentak di Suriah, Gaza, dan Lebanon.

Dalam pernyataan video yang dirilis Senin (1/6), Netanyahu menegaskan, “Hari ini, kami kembali ke Beaufort—bukan sebagai penjajah, tapi sebagai kekuatan yang bersatu, teguh, dan lebih kuat dari sebelumnya.” Ia menambahkan, “Kami telah menghancurkan tembok ketakutan. Kami mengambil inisiatif. Kami bergerak di semua front.”

Kastil Beaufort, atau dikenal juga sebagai Al-Shaqif, adalah situs arkeologis berusia lebih dari 800 tahun yang dibangun pada masa Perang Salib abad ke-12. Terletak di puncak bukit yang mengawasi perbatasan Lebanon-Suriah, benteng ini pernah menjadi markas strategis bagi pasukan Saladin, Kesultanan Utsmaniyah, kekuatan Prancis, hingga Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Nama “Beaufort” berasal dari bahasa Prancis kuno yang berarti “benteng indah,” sementara “Al-Shaqif” dalam bahasa Aramik berarti “tebing batu yang kokoh.”

Benteng ini pernah direbut Israel pada 1982, lalu ditinggalkan pada 2000 setelah penarikan pasukan dari Lebanon selatan. Setelah itu, situs ini dipugar dan dibuka sebagian untuk wisatawan, bahkan pada 2024 UNESCO memperkuat perlindungannya karena ancaman konflik Israel-Hizbullah yang semakin memanas.

Perebutan ulang Kastil Beaufort kali ini memicu reaksi internasional. Dewan Keamanan PBB langsung menggelar pertemuan darurat pada hari yang sama, dengan sejumlah negara mempertanyakan legitimasi tindakan militer Israel di wilayah yang secara hukum masih dianggap sebagai tanah Lebanon.

Meski Israel menyebut operasi ini sebagai langkah defensif untuk menghancurkan infrastruktur Hizbullah, para ahli sejarah dan hak asasi manusia memperingatkan bahwa penguasaan situs warisan dunia ini berpotensi memicu kerusakan tak tergantikan—sekaligus memperdalam luka sejarah di tanah yang telah lama menjadi medan konflik.

Previous articleASN Digerakkan Wujudkan Pancasila di Pelayanan Publik
Next articleEthiopia Gelar Pemilu di Tengah Ketegangan Politik dan Konflik Daerah
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik