Sumbawanews.com,- Amerika Serikat mengajukan usulan gencatan senjata melalui Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi, tetapi Iran menolaknya secara tegas. Penolakan ini terjadi di tengah konflik bersenjata yang telah berlangsung hampir dua pekan, dengan serangan balasan berkelanjutan dari kedua belah pihak. Menurut laporan The New York Times, Iran menolak proposal tersebut karena dianggap tidak menyelesaikan inti persoalan: kendali atas Selat Hormuz. Al-Zaidi membawa usulan itu setelah bertemu Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, sebelum melanjutkan kunjungan resmi ke Teheran.
Kunjungan Al-Zaidi ke Iran merupakan yang pertama sejak ia menjabat sebagai perdana menteri pada Mei 2026. Ia bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi untuk membahas kerja sama bilateral di bidang perdagangan, energi, dan transportasi, serta upaya memperkuat stabilitas regional. Namun, pembahasan gencatan senjata menjadi fokus utama yang berakhir tanpa kesepakatan.
Iran menyatakan bahwa proposal AS saat ini merupakan satu-satunya inisiatif resmi yang diajukan, namun dianggap tidak memadai. Pejabat Teheran juga mengungkapkan kesiapan menghadapi kemungkinan serangan militer AS yang lebih luas, dengan ancaman memperluas konflik ke tingkat regional—termasuk menargetkan Tel Aviv dan meminta kelompok Houthi di Yaman menutup Selat Bab al-Mandab.
Serangan militer AS terus berlanjut, dengan Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan serangan ke-13 secara berturut-turut pada Jumat dini hari. Otoritas Iran menyatakan serangan tersebut telah menewaskan 53 orang dan melukai 592 lainnya sejak 8 Juli, ketika Trump menyatakan gencatan senjata berdasarkan nota kesepahaman AS-Iran tidak lagi berlaku. Konflik ini telah mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, memicu kenaikan harga minyak global, dan memicu peringatan keamanan terhadap kepentingan AS di luar Timur Tengah.















