Sumbawanews.com,- Pada 19 September 2026, Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) menyelenggarakan Global Town Hall 2026, sebuah forum virtual global yang menghimpun akademisi, diplomat, jurnalis, dan aktivis sipil dari berbagai negara untuk membahas arah baru tata dunia. Dengan tema “Calling for a Global U-Turn: Recentering Development, Reclaiming Humanity, Restoring Justice in a Crazi(er) World”, forum ini menempatkan Palestina sebagai salah satu fokus utama, khususnya dalam sesi yang membahas prospek dan tantangan kemerdekaan serta kenegaraan Palestina.
Menteri Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina, Dr. Varsen Aghabekian Shahin, menegaskan bahwa hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri bukanlah aspirasi diplomatik semata, melainkan realitas politik, hukum, dan nasional yang tak dapat dicabut. Ia menekankan bahwa pendudukan Israel terus menghalangi penerapan kedaulatan penuh atas wilayah Palestina, dan satu-satunya jalan menuju keadilan adalah penghentian pendudukan serta pemulihan fondasi solusi dua negara. Di sesi yang sama, Nickolay Mladenov, High Representative for Gaza – Board of Peace, menegaskan bahwa tujuan utama bukan memisahkan Gaza dari Tepi Barat, melainkan mengembalikan kendali Gaza kepada Otoritas Nasional Palestina di Ramallah melalui transisi kewenangan sipil, penonaktifan senjata, dan penarikan pasukan Israel ke perimeter Gaza.
Wakil Presiden Indonesia periode 2004–2009 dan 2014–2019, Jusuf Kalla, menyatakan bahwa solusi dua negara tetap menjadi opsi paling diterima secara luas, karena mengakui martabat kedua belah pihak—Palestina dan Israel—sebagai negara berdaulat dengan batas yang diakui. Namun, ia mengakui bahwa proposal ini belum sepenuhnya diterima oleh kedua belah pihak. Di sisi lain, Daniel Levy, Presiden U.S./Middle East Project, menilai bahwa solusi dua negara telah kehilangan relevansinya di tengah realitas pendudukan yang semakin menghancurkan. Ia menyerukan kesetaraan dalam satu negara sebagai satu-satunya jalan berkelanjutan, menambahkan bahwa kekerasan dalam pendudukan akan terus memicu perlawanan, dan penghentian senjata saja tidak cukup mengatasi akar masalahnya.
Sesi ini juga diisi oleh pandangan dari sejumlah tokoh internasional, termasuk Daniel Levy, Wadah Khanfar, Michael Vatikiotis, Yenny Wahid, Amb. Tarek Adel, Jismi Johari, Muhammed Hüseyin Mercan, dan Dr. Qamar Cheema. Forum yang dimoderatori oleh Nathalie Tocci dari Johns Hopkins SAIS ini disiarkan secara global, menghubungkan peserta dari Ramallah, Qatar, Uni Emirat Arab, Türkiye, Mesir, Inggris, Italia, dan berbagai negara Asia.















