Home Berita Internasional Iran Kini Butuh Kesepakatan Nuklir Baru, Bukan Lanjutan 2015

Iran Kini Butuh Kesepakatan Nuklir Baru, Bukan Lanjutan 2015

Sumbawanews.com,- IAEA Director General Rafael Grossi menyatakan bahwa kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 sudah tak lagi relevan sebagai model penanganan program nuklir Teheran. Kemajuan pesat dalam teknologi dan kapasitas nuklir Iran, ditambah dampak konflik terkini di kawasan, membuat dunia harus merancang pendekatan baru yang jauh lebih kompleks dan realistis.

Dalam wawancara eksklusif, Grossi menekankan bahwa perjanjian lama—yang dirancang untuk membatasi uranium diperkaya hingga 3,67 persen dan membatasi jumlah sentrifugasi—tidak lagi mencerminkan realitas di lapangan. Saat ini, Iran mampu memproduksi uranium diperkaya hingga 60 persen, mendekati tingkat senjata, serta memiliki ribuan sentrifugasi canggih yang beroperasi secara terus-menerus. Selain itu, infrastruktur nuklirnya kini jauh lebih tersebar, lebih sulit dipantau, dan lebih tahan terhadap tekanan diplomatik.

“Kita tidak bisa memaksa masa lalu untuk menyelesaikan masalah masa kini,” ujar Grossi. “Setiap upaya untuk menghidupkan kembali JCPOA tanpa penyesuaian mendasar akan sia-sia—bahkan berbahaya.”

Kondisi ini diperparah oleh ketegangan regional pasca serangan balasan Iran terhadap Israel awal tahun ini, yang memicu kekhawatiran global akan eskalasi lebih luas. Grossi menekankan bahwa IAEA kini berada di garis depan dalam upaya mencegah kebocoran teknologi nuklir, sekaligus memastikan akses inspeksi yang transparan—meski Iran secara bertahap membatasi kerja sama teknis.

Negara-negara Barat, termasuk AS, Inggris, dan Prancis, mulai mengakui kebutuhan akan pendekatan baru. Namun, tantangan terbesar bukan hanya pada teknis, melainkan pada kepercayaan. Iran menolak kembali ke meja perundingan tanpa jaminan pencabutan sanksi secara permanen, sementara Barat menuntut penghentian total aktivitas nuklir berisiko tinggi sebelum membahas pencabutan sanksi.

Grossi menyerukan pembentukan kerangka dialog baru yang mencakup tidak hanya batasan nuklir, tetapi juga mekanisme verifikasi mandiri, transparansi penuh terhadap fasilitas militer yang terkait, serta jaminan keamanan bagi semua pihak. “Ini bukan soal kembali ke masa lalu. Ini soal menyelamatkan masa depan,” tegasnya.

Dengan tekanan waktu semakin mendesak dan kemampuan Iran terus berkembang, dunia kini berada di persimpangan: memilih antara kesepakatan yang sudah usang atau merancang solusi yang berani—dan mungkin lebih sulit—namun jauh lebih bertahan lama.

Previous articleSatlantas Polres Jember Hadirkan Pelayanan Publik yang Cepat dan Transparan
Next articleBlue Origin Targetkan New Glenn Terbang Akhir Tahun Ini
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik