Sumbawanews.com,- Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa negosiasi rahasia antara Teheran dan Washington telah memasuki tahap krusial, dengan kedua pihak hampir menyelesaikan kesepakatan awal yang berpotensi mengakhiri dekade ketegangan berkelanjutan. Menurut Araghchi, kesepakatan ini bukan sekadar gencatan senjata diplomatik, melainkan fondasi bagi penyelesaian menyeluruh terhadap program nuklir Iran.
Dalam pernyataan resmi pada Jumat, Araghchi menegaskan bahwa setelah kesepakatan awal ditandatangani, seluruh poin teknis terkait pembatasan uranium, akses inspeksi IAEA, dan pencabutan sanksi ekonomi akan dirampungkan dalam waktu 60 hari. “Ini bukan tentang kompromi semata, tapi tentang membangun kepercayaan yang berkelanjutan,” ujarnya, menekankan bahwa Iran tetap menuntut pengakuan atas haknya atas energi nuklir damai.
Pernyataan ini sejalan dengan sinyal terbaru dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang beberapa hari sebelumnya menyatakan bahwa konflik dengan Iran “hampir berakhir.” Meski tidak merinci rincian, Trump mengindikasikan bahwa tekanan maksimal yang diberlakukan selama bertahun-tahun telah memaksa Teheran kembali ke meja perundingan.
Kesepakatan yang sedang dirumuskan diyakini mencakup pembatasan jumlah sentrifugasi uranium yang diperkaya, pembukaan akses penuh bagi inspektur IAEA ke fasilitas nuklir sensitif, serta pencabutan bertahap sanksi terhadap sektor perbankan dan energi Iran. Sebagai imbalannya, Iran bersedia menunda pengayaan uranium hingga tingkat senjata dan menghentikan pengembangan rudal balistik berbasis nuklir.
Analisis keamanan internasional menyebut langkah ini sebagai momen paling kritis sejak perjanjian nuklir 2015 (JCPOA) runtuh pada 2018. Jika berhasil, kesepakatan baru ini tidak hanya mengurangi risiko perang di Teluk, tetapi juga membuka pintu bagi pemulihan ekonomi Iran dan stabilitas regional yang telah lama terganggu.
Namun, tantangan tetap besar. Konservatif di kedua negara, termasuk di parlemen Iran dan kubu sayap kanan di AS, telah mengeluarkan peringatan keras. Di Teheran, para ulama khawatir kesepakatan ini akan melemahkan kedaulatan nasional; di Washington, sejumlah senator menolak pencabutan sanksi tanpa jaminan permanen.
Dengan waktu 60 hari yang disepakati sebagai batas akhir, dunia kini menanti apakah diplomasi akan menang atas kecurigaan — atau apakah kembali terulang sejarah yang penuh retorika, tapi minim hasil.

















